LANGIT7.ID-Jakarta; Tim Aeronautika Brawijaya dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (UB) yang didampingi oleh dosen pembimbing Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D., mengikuti seleksi wilayah Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Sabtu (14/8/2026) secara daring melalui Zoom.
Pada tahap seleksi wilayah tahun ini, sebanyak 51 perguruan tinggi dari berbagai daerah mengikuti kompetisi yang terbagi dalam dua hari pelaksanaan. Dari seluruh peserta tersebut, akan dipilih 16 tim terbaik untuk melaju ke tahap berikutnya yang akan dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tim Aeronautika Brawijaya yang terdiri dari tiga anggota tim inti, yakni Alexander Stormy Bramantyo yang bertanggung jawab pada bagian elektrikal, Alfi Sayfullah pada bagian software, serta Arjunadinata Richie Romeo Hadi pada bagian mekanikal.
Sementara Muhammad Fadhil Qutrunnada berperan sebagai pilot sekaligus menangani bagian elektrikal, didukung Devint Nehal Dhahiri pada bagian software dan Fidel Christian Supeno pada bagian mekanikal sebagai pit crew ini mengusung konsep drone penyelamat.
Dalam misi yang diberikan, robot terbang diminta untuk membawa dan menjatuhkan medical kit ke dalam kotak yang telah disediakan.
Drone juga harus melewati lintasan berupa lorong atau gate tanpa menggunakan GPS sebagai navigasi utama. Keberhasilan tim dinilai berdasarkan kemampuan menyelesaikan setiap misi, ketepatan menjatuhkan medical kit, serta waktu penyelesaian apabila terdapat tim dengan capaian yang sama.
Pilot drone Tim Aeronautika Brawijaya Muhammad Fadhil Qutrunada, mengatakan bahwa salah satu kendala yang dihadapi tim berasal dari faktor eksternal terutama kondisi cuaca.
Angin yang cukup kencang dapat membuat drone menjadi kurang stabil ketika menjalankan misi. Akan tetapi kondisi tersebut telah diantisipasi melalui serangkaian uji coba yang dilakukan tim sejak beberapa hari sebelum seleksi. Tim mencoba sejumlah metode untuk mengetahui sistem yang paling tepat dalam menjaga kestabilan dan akurasi penerbangan drone.
“Kendalanya lebih banyak dari eksternal, seperti cuaca dan angin yang cukup kencang sehingga membuat drone tidak stabil. Tapi berkat kerja keras tim dari hari-hari sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba untuk mengantisipasi hal tersebut dengan menggunakan metode-metode yang berbeda dan terbukti akurat,” jelas Muhammad Fadhil dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
![Aeronautika Brawijaya Tuntaskan Misi Drone Penyelamat pada Seleksi KRTI 2026]()
Upaya tersebut tentunya membuahkan hasil positif.
Dalam pelaksanaan seleksi, Tim Aeronautika Brawijaya berhasil menyelesaikan seluruh misi dengan perolehan full point dan mencatatkan waktu 55 detik. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang membuat tim optimistis dapat melanjutkan perjuangan ke tahap berikutnya.
Performa drone tersebut juga didukung oleh berbagai teknologi yang dikembangkan tim seperti LiDAR untuk mengukur jarak dengan permukaan tanah, optical flow untuk mendeteksi pergerakan berdasarkan tekstur permukaan.
“LiDAR digunakan untuk mengukur jarak drone dengan tanah. Lalu ada optical flow, kamera khusus untuk mendeteksi pergerakan tekstur di tanah. Ada juga barometer untuk mendeteksi ketinggian dari tekanan udara dan vision menggunakan kamera depan untuk mendeteksi gate dari warna,” jelas Alex.
Capaian full point dengan waktu 55 detik menjadi hasil dari persiapan dan kerja sama seluruh anggota Tim Aeronautika Brawijaya. Meski hasil resmi terkait tim yang akan lolos ke tahap berikutnya belum diumumkan, Alex dan tim tetap optimistis dapat melanjutkan perjuangan pada tahap selanjutnya.
“Belum ada pengumuman lanjutan. Tapi kita optimis buat di sana,” pungkasnya.
(lam)