LANGIT7.ID, Semarang - Frekuensi gempa yang mengguncang Salatiga, Banyubiru dan Ambararawa, Jawa Tengah cenderung mengalami penurunan.
Sampai dengan Senin (25/10) tercatat memiliki Magnitudo : 2,7, terjadi pada pukul 14.43.18 WIB Lok : 7.139 LS, 110.55436 BT (16 Km Tenggara Kab-Semarang –Jateng), Kedalaman : 10 km, dirasakan II MMI di Ambarawa.
Sebelumnya, pada Sabtu (23/10), aktivitas kegempaan terjadi hingga 24 kali, sehari berikutnya terjadi 9 kali kegempaan dan pada Senin (25/10), terpantau hanya terjadi 1 kali gempa.
“Semoga ini pertanda baik. Swarm ini fenomena alam biasa,” ungkap Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pusat, Daryono di akun twitternya, dikutip Selasa (26/10).
Baca juga:
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Malang, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami“Masa berakhirnya swarm ini berbeda-beda. Dapat berlangsung beberapa bulan, beberapa tahun seperti swarm Mamasa Sulbar, yang mulai terjadi sejak akhir 2018 dan masih berlanjut hingga saat ini,” ujarnya lagi.
Daryono menyampaikan, fenomena swarm yang mengguncang Banyubiru, Ambarawa dan Salatiga dan sekitarnya ini ada dugaan jenis swarm tersebut berkaitan dengan fenomena tektonik, karena zona ini cukup kompleks berdekatan dengan jalur sesar Merapi Merbabu, Sesar Rawa Pening dan Sesar Ungaran.
“Dugaan tektonik swarm ini tampak dari bentuk gelombang geser (shear wave) yang sangat jelas dan nyata menggambarkan adanya pergeseran 2 blok batuan secara tiba-tiba,” ucapnya.
“Gempa swarm ini dicirikan dengan serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi, berlangsung dalam relatif lama, dan tanpa ada gempa kuat sebagai gempa utama,” imbuh dia.
Terpisah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku sudah berkoordinasi dengan bupati/wali kota setempat terkait terjadinya gempa di Salatiga, Banyubiru dan Ambarawa. Ia meminta untuk siaga, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Yang di Kabupaten Semarang sudah membuat tenda-tenda. Sementara saya minta semuanya stand by. Masyarakat tidak usah takut,” ucapnya.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah dan instansi lain saat ini masih terus memantau untuk memberikan laporan harian. Untuk kerugian akibat terjadinya gampa sejak akhir pekan lalu, belum ada perhitungan resmi dari pemerintah daerah setempat.
(sof)