LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren Bayt Al-Qur’an sudah mengkader ribuan hafidz sejak 2009 lalu. Pesantren pasca tahfidz ini merupakan salah satu program Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) dalam bentuk pesantren, khusus para santri dari berbagai daerah yang sudah hafal 30 juz.
Sama dengan program PSQ lain, peserta terpilih dan mendapat beasiswa. Mereka diberikan pendidikan dalam bidang tafsir, kajian keislaman lain. Setelah itu, para alumni Pesantren pasca tahfidz kembali ke pesantren dan kampung masing-masing untuk menjadi penggerak Islam wasathiyah di penjuru nusantara.
Pengurus Pesantren Bayt Al-Qur'an sekaligus CEO Cariustadz.id, Nasywa Shihab, menjelaskan, Bayt Al-Qur’an bekerjasama dengan berbagai pesantren di Indonesia. Para santri yang direkrut harus melalui proses seleksi cukup ketat, seperti hafal 30 juz, memiliki kemampuan dasar bahasa Arab, dan mampu membaca kitab kuning.
![Bayt Al-Qur’an, Wadah Para Hafidz Tingkatkan Pemahaman Islam dan Potensi Diri]()
Santri yang lolos seleksi akan menjalani pelatihan selama 6 bulan. Namun sejak pandemi, masa pembelajaran diperpendek menjadi 2 bulan secara daring. Latar belakang pendirian Bayt Al-Qur’an ini karena ada tantangan yang dihadapi sebagian besar pesantren di Indonesia.
Pertama, tidak hanya berhenti pada capaian hafalan Al-Quran, meningkatkan pemahaman dan kompetensi pelengkap dakwah.
Tidak dipungkiri kebanyakan para santri fokus pada hafalan Alquran saja. Ini langkah mulia, tapi tidak cukup. Hal lebih yang lebih penting adalah pemahaman kandungan Al-Qur’an sebagai kompetensi pelengkap dakwah.
“Pendidikan Alquran ini dilatih langsung oleh para dewan pakar PSQ, yang umumnya adalah para dosen di perguruan tinggi, baik bergelar doktor dan profesor. Harapannya memang kita bisa melahirkan hafidz quran yang berpemahaman keagamaan luas dan moderat,” kata muslimah yang akrab disapa Caca dalam dalam Mimbar LANGIT7.ID bertema ‘Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan’ secara daring, Rabu (27/10/2021).
Baca Juga: Webinar LANGIT7.ID: Kesadaran Digital Harus Ditangkap Santri dan Pesantren
Kedua, masih minim kekuatan ekonomi untuk mandiri dan terampil mengembangkan potensi diri serta lingkungan.
Aspek usaha dan entrepreneurship menjadi aspek penting bagi para hafidz. Fakta di lapangan masih banyak penghafal Al-Qur’an yang belum mandiri secara ekonomi dan belum maksimal menggunakan potensi diri di kehidupan sehari-hari.
Dalam program tersebut, para santri diberikan berbagai pelatihan, dimulai dari manajemen wirausaha, pelatihan psikologi pengembangan diri, hingga pelatihan kepemimpinan.
“Harapannya kami bisa melahirkan hafidz quran yang mampu berkontribusi aktif di tengah masyarakat dan mandiri secara ekonomi,” tutur putrid Abi Quraish Shihab yang akrab disapa Caca itu. Ketiga, minimnya literasi teknologi dan kemampuan adaptasi di era digital. Terutama pada masa pandemi Covid-19. Masih banyak santri yang belum mahir menggunakan teknologi, sementara pesantren dituntut untuk bertransformasi ke digital secara cepat. Ini juga rasakan Bayt Al-Qur’an sejak awal pandemi.
“Maka perlu kita mengasah kemampuan adaptasi para santri. Yang kami lakukan dan terus dalam tahap akselerasi sampai sekarang adalah bertransformasi ke digital. Jadi, program online yang kami lakukan bukan hanya mengubah sistem pendaftaran sampai proses belajar-mengajar, tapi silabus materi yang digunakan,” tutur Caca.
Caca mengakui ada hal yang hilang ketika pesantren offline bertransformasi ke online. Misalnya kesempatan belajar secara langsung melalui interaksi dengan para pengasuh atau kiai. Hal itu mereka dapat ketika tinggal bersama di area pesantren.
Tapi di sisi lain, pembelajaran jarak jauh secara daring memberi peluang kreatif bagi santri untuk mengakses seluas mungkin informasi dari berbagai sumber.
“Kami memberikan mereka kesempatan berkarya dan memotivasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu merespons perubahan,” kata Caca.
Baca Juga: Cariustadz.id, Menjawab Kebutuhan Referensi Ustadz Kompeten di Era Digital
Setelah memiliki pemahaman islam dan potensi diri yang mumpuni, Pusat Studi Al-Qur'an mewadahi para alumninya untuk berdakwah langsung ke masyarakat melalui platform digital yakni
cariustadz.id.(jqf)