LANGIT7.ID, Jakarta; - Meraih taufik (bimbingan Ilahi) dan mahabbah (cinta Allah ﷻ) merupakan cita-cita tertinggi setiap hamba yang beriman. Ketika seorang hamba berhasil mendapatkan cinta Sang Pencipta, seluruh gerak-gerik panca indera dan anggota tubuhnya akan senantiasa dilindungi dan dibimbing menuju keridaan-Nya.
Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung, Ustaz Robi Permana, menjelaskan bahwa kunci utama untuk memperoleh taufik dan perlindungan Ilahi terletak pada konsistensi hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah ﷻ melalui amalan wajib yang disempurnakan dengan amalan-amalan sunah.
Mengutip Hadis Qudsi riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah ﷻ berfirman:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
"Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku membimbing pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia bertindak, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya; dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku melindunginya."
Makna Bimbingan Allah pada Anggota TubuhUstaz Robi Permana memaparkan penafsiran Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah guna menjelaskan hakikat bimbingan Ilahi tersebut. Menurutnya, maksud Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki seorang hamba bukanlah makna intrinsik atau fisik, melainkan pemberian sidad (ketepatan) dan taufik dalam setiap aktivitas hamba.
وَلَٰكِنَّ الْمَعْنَى أَنَّهُ يُسَدِّدُ الْإِنْسَانَ فِي سَمْعِهِ وَبَصَرِهِ وَبَطْشِهِ وَمَشْيِهِ
"Akan tetapi, maknanya adalah Allah memberikan bimbingan dan taufik kepada manusia dalam pendengaran, penglihatan, tindakan tangan, dan langkah kakinya."
Secara rinci, penjelasannya terbagi ke dalam lima dimensi bimbingan:
Meraih Cinta Allah:
فَإِذَا أَكْثَرَ الْإِنْسَانُ مِنَ النَّوَافِلِ مَعَ قِيَامِهِ بِالْفَرَائِضِ، نَالَ مَحَبَّةَ اللَّهِ
"Apabila seseorang memperbanyak amalan sunah disertai dengan menunaikan amalan wajib, ia akan memperoleh kecintaan Allah."
Bimbingan Pendengaran:
فَلَا يَسْمَعُ إِلَّا مَا يُرْضِي اللَّهَ
"Ia tidak mendengar kecuali sesuatu yang diridai Allah."
Bimbingan Penglihatan:
فَلَا يَنْظُرُ إِلَّا إِلَى مَا يُحِبُّ اللَّهُ النَّظَرَ إِلَيْهِ
"Ia tidak melihat kecuali sesuatu yang Allah sukai untuk dilihat."
Bimbingan Tangan:
فَلَا يَعْمَلُ بِيَدِهِ إِلَّا مَا يُرْضِي اللَّهَ
"Ia tidak melakukan sesuatu dengan tangannya kecuali perkara yang diridai Allah."
Bimbingan Langkah Kaki:
فَلَا يَمْشِي إِلَّا إِلَى مَا يُرْضِي اللَّهَ
"Ia tidak melangkahkan kakinya kecuali menuju sesuatu yang diridai Allah."
Jalan Meraih Taufik: Dawam Beramal dan Menjaga Lisan Lebih lanjut, Akademisi IAIPI Bandung ini menekankan dua fondasi praktis yang harus dipegang oleh setiap Muslim untuk merawat kecintaan Allah tersebut:
1. Kontinuitas dalam Kebaikan (Dawam) Istikamah atau dawam dalam beramal—meskipun dalam kuantitas yang kecil—jauh lebih dicintai Allah dibandingkan amalan besar yang dilakukan sesekali lalu terputus. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit." (HR al-Bukhari no 6464 dan Muslim no 783).
2. Menjaga Lisan dan Kehormatan Kemampuan mengendalikan lisan dan anggota tubuh merupakan cermin kesempurnaan iman sekaligus jalan pintas menuju surga. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Dalam hadis sahih lainnya dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ memberikan jaminan keagungan:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barang siapa menjamin bagiku apa yang berada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluan), aku menjamin baginya surga." (HR al-Bukhari no 6474).
Landasan Al-Qur'an dan Kesimpulan
Ustaz Robi Permana menyimpulkan bahwa prinsip-prinsip bimbingan Ilahi ini memiliki akar yang sangat kuat di dalam Al-Qur'anul Karim, di antaranya:
Prinsip Cinta Allah: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222).
Petunjuk Jalur Ketakwaan: "Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petunjuk membedakan hak dan batil)..." (QS. Al-Anfal: 29).
.Bimbingan Kesungguhan: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami..." (QS. Al-'Ankabut: 69).
Perintah Menjaga Pandangan: Perintah Ghadul Bashar bagi orang beriman (QS. An-Nur: 30).
Pertanggungjawaban Anggota Tubuh: Kesaksian lisan, tangan, dan kaki di akhirat (QS. Yasin: 65).
"Inti pesan ini adalah jika kita ingin mendapatkan taufik dan cinta Allah, mulailah dengan menjaga kewajiban, melazimkan ibadah sunah secara konsisten, serta mengarahkan seluruh panca indera dan anggota tubuh kita semata-mata untuk ketaatan kepada-Nya," pungkas Ustaz Robi Permana.
(zhd)