Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 12 Mei 2026
home sosok muslim detail berita

KH Maimoen Zubair Lahir Saat Peristiwa Sumpah Pemuda

Muhajirin Kamis, 28 Oktober 2021 - 16:01 WIB
KH Maimoen Zubair Lahir Saat Peristiwa Sumpah Pemuda
Almarhum KH Maimoen Zubair (foto: nu.or.id)
LANGIT7.ID - Siapa yang tak kenal dengan Mbah Moen? Ulama yang memiliki nama lengkap KH Maimun Zubair itu merupakan seorang alim, faqih, sekaligus muharrik (penggerak). Ia menjadi salah satu rujukan ulama Tanah Air dalam bidang fiqih, karena beliau menguasai ilmu fiqih dan ushul fiqh secara mendalam.

Mbah Moen lahir bertepatan dengan berlangsungnya Kongres Pemuda atau Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau putra Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih yang juga murid dari Syekh Said al-Yamani serta Syekh Hasan al-Yamani al-Makky.

“Bulan oktober adalah bulan penentuan. Hijrah nabi itu di bulan oktober. Bangsa Indonesia dipersatukan bulan Oktober (Sumpah pemuda). Alhamdulillah, saya lahir juga bulan oktober (28 Oktober 1928),” kata Mbah Moen dalam salah satu tausiyahnya yang ditayangkan kanal youtube Petiga tv, dikutip Kamis (28/10/2021).

Baca Juga: Masjid KH Maimoen Zubair Berdiri di Temanggung Jateng

Kawan dekat Kiai Sahal Mahfudh itu merupakan santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sembari mendalami ilmu di Tanah Hijaz. Hingga purna petualangan itu, beliau pun mengasuh pesantren Al-Anwar di kota kelahirannya.

Mbah Moen sejak kecil terdidik dengan baik. Ia mencintai ilmu pengetahuan berkat sang ayah. Tak heran jika beliau mewarisi kedalaman ilmu orang tuanya. Saat remaja, ia meneruskan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim. Di pesantren ini, beliau juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki.

Beliau juga menuntut ilmu ke beberapa ulama di Tanah Jawa seperti Kiai Baidlowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan beberapa kiai lain.

Hingga pada usia 21 tahun, ia terbang ke Makkah didampingi sang kakek, Kiai Ahmad bin Syuaib, untuk menuntut ilmu. Di kota suci itu, beliau menjadi murid Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Qutuhbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly, dan berapa ulama tersohor lain.

Saat kembali ke Tanah Air, ia mengabdikan diri mengaar di Sarang, kota kelahiran beliau. Ia lalu mengembangkan Pesantren Al-Anwar, Sarang pada 1965. Pesantren itu menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Selain menjadi ulama, Mbah Moen juga seorang politikus. Ia pernah menjadi Anggota DPRD Rembang selama 7 tahun, anggota MPR utusan Jawa Tengah, sampai akhirnya diangkat menjadi Ketua Majelis Syariah PPP.

Dalam dunia literasi, beliau menelurkan banyak karya. Di antaranya Nushushul Akhyar, kitab karangan Mbah Moen yang menjelaskan tentang penetapan awal puasa, Idul Fitri, dan pembahasan terkait Sa’i. Kedua, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniah bi Sarang Al-Qudama’ merupakan kitab yang berisi biografi ulama-ulama Sarang.

Beliau juga menulis buku Al-Ulama’ Al-Mujaddidun yang sering dikaji Gus Baha, Maslakul Tanasukh yang menjelaskan tentang sanad thoriqoh Mbah Moen kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki dan berisi pembahasan lainnya, Kifayatul Ashab, Taqirat Badi Amali, dan Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.

Wafat

Mbah Moen menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (6/8/2019) pada usia 90 tahun di Makkah sekitar pukul 04.17 waktu setempat saat hendak menunaikan ibadah haji. Ustadz Solmed (Sholeh Mahmoed Nasution) menceritakan detik-detik Mbah Moen meninggal dunia.

“Beliau mau tahajud, selesai wudhu, lalu tidak sadarkan diri,” kata Ustadz Solmed. Setelah tak sadarkan diri, beliau dibawa ke Rumah Sakit An Nur, Makkah, Arab Saudi. “Setelah dibawa ke rumah sakit, beliau wafat kurang lebih jam 4.17 waktu Saudi, jelang subuh,” ucapnya.

Beliau dimakamkan di makam Ma'la satu komplek dengan makam para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 12 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)