Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menghadiri forum perdamaian dunia dalam Pertemuan Internasional bertajuk "Unarmed and Disarming Peace" yang berlangsung pada 25–27 Oktober 2026 di Assisi, Italia.
Acara tahunan yang diinisiasi Komunitas Sant Egidio ini mempertemukan para pemimpin agama, tokoh politik, budaya, dan masyarakat sipil dari seluruh dunia untuk merumuskan solusi atas krisis kemanusiaan dan konflik global. Turut mendampingi Menag dalam kunjungan kerja tersebut, Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt Dirjen Bimas Katolik, Adiyarto Sumardjono.
Saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Menag menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bagian penting dari penguatan diplomasi keagamaan (religious diplomacy) Indonesia di panggung internasional. Langkah ini sekaligus melanjutkan komitmen global Indonesia setelah momentum dua tahun penandatanganan Deklarasi Istiqlal bersama Paus Fransiskus pada 2024 lalu.
“Saatnya kita menjadikan bahasa agama sebagai bahasa diplomasi untuk perdamaian, untuk kemanusiaan, dan juga untuk lingkungan,” ujar Menag, Sabtu (24/10/2026).
Dalam forum Sant Egidio Meetings for Peace, Menag dijadwalkan mengisi sejumlah sesi utama. Pertama, Opening Assembly - Unarmed and Disarming Peace pada 25 Oktober 2026 di Umbria Fiere, Assisi. Menag menyampaikan pidato pada acara pembukaan (Opening Assembly) bersama lima tokoh agama dunia. Pembukaan tersebut dihadiri President of the Regional Government Umbria yang mewakili Presiden Italia.
Baca Juga: Kerap Disebut Kampungan, Sarung dan Peci Justru Jadi Identitas Bangsa
Kedua, Forum 16 - Prayer, Dialogue and Peace: the Legacy of Assisi pada 26 Oktober 2026 di Casa, Assisi. Dalam forum ini, Menag menyampaikan pidato utama bersama tujuh tokoh agama dunia.
“Saya akan membawa pesan bahwa dialog lintas agama tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen kesepakatan di atas kertas, melainkan harus ditransformasikan menjadi aksi kemanusiaan yang nyata. Model toleransi dan harmoni beragama di Indonesia dinilai menjadi contoh konkret bagaimana keberagaman dapat dirawat untuk menjaga stabilitas perdamaian,” jelas Menag.
Pertemuan Assisi 2026 bertepatan dengan peringatan 40 tahun Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang pertama kali dicetuskan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1986. Rangkaian acara yang terdiri dari 24 forum tematik ini ditutup dengan upacara perdamaian bersama Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV.
“Melalui keikutsertaan ini, Indonesia menegaskan kembali perannya sebagai jembatan perdamaian dunia, mendorong pesan bahwa di tengah maraknya konflik global, perdamaian yang tulus dan tanpa kekerasan adalah hal yang selalu mungkin untuk diwujudkan,” tutur Menag.
Sesi penutupan (Final Ceremony) forum ini berlangsung di Basilica Inferiore, Assisi. Adiyarto Sumardjono menjelaskan bahwa Menag dalam kesempatan tersebut bersanding dengan Paus Leo XIV untuk kembali mengutarakan komitmen bersama dalam mengimplementasikan Deklarasi Istiqlal sebagai kontribusi nyata Indonesia bagi perdamaian dunia.
Selama berada di Roma dan Vatikan, Menag Nasaruddin juga dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan untuk membahas berbagai bentuk kerja sama antarnegarannya, khususnya terkait dialog antariman (interfaith dialogue), serta menyampaikan keinginan mengundang Paus Leo XIV berkunjung ke Indonesia.
Adiyarto menambahkan bahwa Menag turut membahas kerja sama dengan PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d'Islamistica) di bawah naungan Takhta Suci Vatikan, yakni lembaga perguruan tinggi yang berfokus pada kajian teologi, budaya Arab, dan dialog Islam-Kristen serta memiliki koleksi naskah keislaman yang sangat lengkap.
Baca Juga: UAS Curhat ke Daniel Mananta, Singgung Ironi Shalat Minta Hujan
