LANGIT7.ID, Jakarta - Komunitas Indonesia Tanpa JIL (ITJ) meneguhkan eksistensinya pada gerakan pemikiran keislaman. Komunitas yang terbentuk sembilan tahun silam untuk membendung liberalisme ini terus berupaya bertahan di tengah beragamnya corak pemikiran keagamaan.
Menurut pencetus ITJ Akmal Sjafril, tantangan pemikiran keislaman tidak berkurang, meskipun dunia dilanda pandemi Covid-19. Ajaran Islam dan umat Muslim dianggap masih sering menjadi sasaran serangan dari kelompok-kelompok sekuler.
“Hanya karena nama Jaringan Islam Liberal atau JIL jarang terdengar lagi, bukan berarti masalahnya sudah bubar,” kata Akmal dalam Rapat Kerja yang digelar di Sentul Bogor belum lama ini.
Baca Juga: Supaya Khusyuk, ke Mana Seharusnya Pandangan Mata saat Shalat?Lebih lanjut, Akmal mengatakan, rapat kerja ini dilakukan untuk mengevaluasi hal-hal yang sudah komunitas lakukan sejak dimulainya kepengurusan pasca-Silatnas di Yogyakarta, Februari 2020 lalu. Di samping itu, mereka ingin membuat rencana-rencana besar ke depannya agar ITJ terus eksis dan bersemangat.
“Pada kenyataannya, pemikiran Islam liberal masih bermunculan di mana-mana. Sebelum pandemi, di tahun 2019, kita dikejutkan dengan munculnya disertasi yang menghalalkan zina,” kata Akmal.
Ia melihat, perkembangan pemikiran Islam liberal masih dapat terlihat dengan jelas di dunia maya. Beberapa hari ke belakang, contohnya, di Twitter sempat viral tangkapan layar dari percakapan via WhatsApp yang membicarakan tentang seseorang yang mulai berpikiran liberal sejak kuliah di sebuah perguruan tinggi Islam.
Baca Juga: Ekonomi Digital Tumbuh Signifikan, QRIS Tembus 12 Juta Merchant “Dia bahkan mempertanyakan alasan Allah memerintahkan manusia untuk menyembah-Nya, seolah-olah Allah itu narsis atau semacamnya. Pertanyaan-pertanyaan ini sama sekali tidak baru dan sudah muncul sejak bertahun-tahun yang lalu. Walaupun tidak diberi nama, tapi inilah pemikiran Islam liberal, yang ironisnya justru tumbuh subur di kampus-kampus perguruan tinggi Islam,” ujar Akmal menambahkan.
Dengan kenyataan yang demikian, dapat dipahami mengapa ITJ merasa perlu untuk merapatkan barisan dan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Raker juga diadakan sehubungan dengan munculnya harapan positif dengan melihat perkembangan pandemi belakangan ini.
“Alhamdulillah, kondisi di negeri kita sekarang berangsur-angsur membaik, dan kita berharap tren ini akan terus berlanjut. Kalau pandemi benar-benar berakhir, maka ITJ akan langsung tancap gas lagi, tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan yang baik. Hampir semua
troops ITJ telah menyatakan kangen berat dengan kajian-kajian
offline ITJ yang selalu seru,” kata Koordinator Pusat ITJ Randy Iqbal.
Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kewaspadaan dan Kewarasan Menuju Kehidupan Normal(zhd)