LANGIT7.ID - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah KH Yahya Zainul Ma’arif atau akrab disapa Buya Yahya menilai, pondok pesantren merupakan alternatif terbaik untuk pendidikan anak. Pesantren merupakan konsep pendidikan yang dirancang oleh para ulama-ulama nusantara untuk melahirkan generasi pejuang sekaligus pendakwah.
Akan tetapi, jika orang tua bisa menerapkan sistem pendidikan al-Qur’an di dalam rumah, itu lebih baik. Pilihan memasukkan anak ke pondok pesantren merupakan alternatif kedua jika rumah sudah tidak aman untuk tumbuh kembang anak. Terlebih, anak harus mendapatkan pendidikan terbaik pada usia dini.
“Kami tidak mengatakan untuk baik harus di pesantren. Akan tetapi, harus ada jaminan bahwasanya rumah kita aman,” kata Buya Yahya melalui kanal youtube Buya Yahya, dikutip Sabtu (6/11/2021).
Jika rumah sudah tidak aman bagi tumbuh kembang anak, maka pada saat itu orang tua bisa mengambil keputusan memasukkan anak ke pesantren. Buya Yahya menjelaskan beberapa ciri-ciri rumah yang tidak aman bagi anak.
Dia mencontohkan rumah yang masih ditinggali bersama saudara, sepupu, dan anggota keluarga lainnya. Ini karena banyak orang yang tinggal satu atap, orang tua akan kesulitan memantau pendidikan anak, seperti tontonan di televisi dan telepon genggam.
Demikian pula rumah yang selalu kosong saat pagi hingga sore karena orang tua bekerja. Anak tidak terpantau. Berangkat dan pulang sekolah tak mendapati orang tua di rumah, sehingga sulit menerapkan pendidikan Qur’ani kepada anak-anak.
“Anda nggak bisa memantau pergaulannya, berarti rumah tidak sehat,” ucap Buya Yahya.
Jika rumah berada pada kondisi seperti itu, maka pondok pesantren adalah pilihan satu-satunya. Itu tidak hanya berlaku untuk rumah saja, tetapi juga untuk sekolah. Demikian pula lingkungan sekitar. Lingkungan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan karakter anak.
Jika pergaulan di sekolah ternyata tidak sehat, maka pondok pesantren menjadi pilihan terbaik bagi orang tua. Pondok pesantren menerapkan kedisiplinan 24 jam, sehingga santri bisa terpantau oleh para ustadz. Ada pula ragam aturan yang harus diikuti, itu semua demi kebaikan masa depan anak.
“Jadi kalau rumah anda aman, terjaga, dan anda bisa terus memantau anak, maka tidak ada masalah. Tidak harus pondok,” ucap Buya Yahya.
Hal terpenting bagi pendidikan anak adalah lingkungan dan rumah yang aman. Orang tua memiliki kewajiban mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak sejak bayi. Bahkan sebelum lahir pun sudah bisa diajarkan. Saat masih mengandung, ibu bisa mendekatkan anak kepada Allah Ta’ala.
Jika rumah dalam keadaan aman, sementara orang tua ingin memasukkan anak ke pondok pesantren, maka tunggu sampai berusia 12 tahun. Usia tersebut dinilai ideal untuk anak mengenyam pendidikan pesantren.
Pada usia itu, anak memasuki masa pubertas dan mulai ada kecenderungan pada lawan jenis. Maka pada saat itulah, anak membutuhkan lingkungan baik dan tempat-tempat mulia. Di pesantren ia akan terus bergelut dengan ibadah dan menghafal Al-Qur’an.
Pada usia itu pula anak mulai sensitif atau mudah meniru (ikut-ikutan). Maka dari itu, sangat penting mengalihkan kesensitifannya itu dengan Al-Qur’an. Setidaknya, di pesantren anak akan terjaga secara pandangan, pendengaran, perbuatan dan lingkungan.
(jqf)