Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 13 Juni 2026
home lifestyle muslim detail berita

Gaun Biru Pria Gurun Sahara, Cermin Budaya yang Masih Melekat

muhammad rifai akif Selasa, 09 November 2021 - 11:41 WIB
Gaun Biru Pria Gurun Sahara, Cermin Budaya yang Masih Melekat
Seorang pria di Gurun Sahara yang masih mengenakan Daraa, budaya setempat. Foto: BBC via Pinterest
LANGIT7.ID - , - Daraa Sahara atau boubou, gaun panjang dan longgar dan tagelmusts (kain yang digunakan sebagai sorban atau penutup kepala dan wajah), adalah dua pakaian pokok utama bagi pria pengembara tradisional di Gurun Sahara, Afrika Utara.

Berasal dari ratusan tahun lalu, sekitar abad ke-7 dan ke-8, masyarakat setempat mengatakan pakaian tersebut melambangkan rasa malu dan kerendahan hati. Selain juga berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari dan badai pasir yang sering terjadi di wilayah tersebut.

Di lain sisi gaya dan bentuk Daraa memungkinkan aliran udara yang tepat, terlebih di kondisi gurun sehingga membantu pria Sahara menghemat cairan tubuh saat berada di tengah gurun.

Baca juga: Mengenal Budaya Baba dan Nyonya Lewat 6 Kegiatan Ramah Muslim di Singapura

Sayangnya, saat ini gaya busana pria Sahara perlahan berubah cenderung ke gaya Barat. Seakan Daraa menjadi peninggalan masa lalu. Meski begitu, di Mauritania, mayoritas prianya mengenakan Daraa dan tagelmust (kain penutup kepala) dalam nuansa biru yang menawan. Menjadikan budaya memakai Daraa tetap hidup, meski untuk beberapa waktu.

Gaun Biru Pria Gurun Sahara, Cermin Budaya yang Masih Melekat
Sumber: Pinterest

Tempat Peleburan Sahara
Seperti pakaian bergaya tunik lainnya, daraa telah menemukan tempat dalam sejarah mode. Versi pertama dari pakaian tersebut diperkirakan berasal dari Haalpulaar, yang tinggal di sepanjang sungai Senegal, antara Senegal modern dan Mauritania.

Dulu hanya pedagang kaya yang mengenakan daraa putih kapur dan tagelmust, karena mereka dianggap mampu membersihkan pakaian setiap hari. Sementara orang yang diperbudak biasanya mengenakan pakaian hitam, karena mereka sering bekerja di lingkungan yang tidak bersih dan harus mengenakan pakaian yang sama berulang kali.

Daraa berwarna muncul hanya setelah Haalpulaar mulai berdagang pewarna nila alami, yang kemudian teknik pewarnaan ini menjadi populer. Daraa berwarna biru tua ini sangat cocok untuk orang yang tidak mampu membeli dara putih, tetapi juga tidak ingin memakai yang hitam.

Sementara Haalpulaar mungkin orang-orang yang telah mewarnai daraa berwarna biru, namun orang Tuareg-lah yang mengadopsi dan mempopulerkan mode. Hingga akhirnya muncul julukan "Pria Biru Sahara", karena pakaian biru mereka yang menutupi sepuruh kulit saat berada di bawah terik matahari.

Menurut Dr. Anja Fischer, peneliti studi Sahara di Universitas Wina, pengaruh Haalpulaar bisa menyebabkan perubahan besar pada mode Tuareg.

"Orang Tuareg dulunya memakai pakaian kulit, dan di beberapa titik, mereka beralih ke kain biru yang mereka kenal sekarang." ujarnya.

Orang Tuareg, yang sekarang mendiami wilayah yang luas membentang dari Libya ke Aljazair, Nigeria, Mali dan Burkina Faso, secara tradisional merupakan salah satu populasi pengembara terbesar di Sahara dan berpengaruh dalam penyebaran Islam di Afrika.

Mereka dikenal di seluruh Sahara denngan gaya busana yang mereka adopsi di Mauritania dikenal hingga seluruh Afrika Utara, dan dunia pastinya. Hingga hari ini, gaya busana mereka mengekspresikan budaya dan tradisi mereka.

Standar baru dengan warna biru
Dalam beberapa dekade terakhir, dengan kedatangan pewarna kimia dari Asia dan Eropa juga adanya teknik pewarnaan berbiaya rendah seperti pewarnaan bale (proses mudah di mana kain dimasukkan ke dalam rendaman air dingin), berbagai warna biru menjadi muncul.

Dan dengan adanya kelas menengah di kota-kota besar dan kecil Mauritania, orang-orang semakin memilih daraa biru muda karena kesamaan mereka dengan dara putih tradisional dan status sosial yang mereka simbolkan.

"Daraa biru muda terlihat seperti yang putih, tetapi hanya perlu dibersihkan setiap tiga hingga empat hari sekali," kata Jdeidou.

Pasar sentral di ibu kota Mauritania, Nouakchott, benar-benar dunia biru. Banyak penjual hanya menawarkan pakaian biru, dan setidaknya satu dari setiap empat pria memakai daraa biru.

Di Mauritania warna biru tidak hanya pada pakaian, melainkan dapat ditemukan di selimut dan payung kios, juga dalam elemen arsitektur seperti pintu, langit-langit dan pagar.

Meskipun warna biru melambangkan langit dan keilahian dalam Alqur'an, warga Mauritania setempat memiliki alasan yang lebih praktis untuk menggunakannya, biru adalah warna yang sempurna untuk perlindungan dari matahari.

Daraa pertama terbuat dari kain sutra, tetapi kemudian dianggap haram dalam Islam jika digunakan oleh laki-laki. Saat ini, toko-toko di Nouakchott, sudah umum melihat daraa yang terbuat dari poliester, kain muslin dan wol unta dan kambing, selain tetap ada versi sutra untuk non-Muslim.

Banyak daraa di Mauritania juga dihias dengan sulaman dari emas, dan beberapa bahkan memiliki beberapa saku internal dan eksternal – detail yang jarang ditemukan berabad-abad yang lalu tetapi berguna di dunia perkotaan modern saat ini.

Ada upaya untuk memperkenalkan lebih banyak pakaian dengan budaya Barat di Mauritania, namun sebagian besar gagal. Menurut Hademine Ahmedou, seorang pemandu lokal dari kota Zouérat, para guru di sana pernah memberitahu untuk menghindari mengenakan daraa saat bekerja dan mulai mengadopsi budaya berpakaian dari Eropa atau Amerika Utara.

Namun demikian, banyak orang Mauritania tidak mau untuk meninggalkan daraa tradisional mereka dan kepentingan budayanya.

Baca juga: Panduan Islam dalam Menyikapi Budaya dan Adat Istiadat

Bangga dengan warisan leluhur mereka


Sementara elemen pakaian tradisional telah hilang di sebagian besar kota di Sahara, tetapi para pria dengan bangga mengenakan daraa biru mereka di kota Nouakchott.

Gaun Biru Pria Gurun Sahara, Cermin Budaya yang Masih Melekat
Sumber: PInterest

Mereka telah menjadi bagian dari budaya Mauritania, bahkan pengusaha yang seharusnya mengenakan setelan kemeja dan jas pun mengenakan daraa khusus daripada menggunakan blazer.

"Nyaman, mudah dibersihkan dan terlihat bagus", kata Jdeidou sambil tersenyum

Sementara sebagian besar negara Sahara sekarang melihat ke Barat untuk tren mode, di Mauritania, perubahan tampaknya masih jauh. Generasi muda juga bangga dengan tradisi mereka dan secara teratur memakai daraa.

Ada juga petunjuk tentang pakaian yang muncul di dunia mode modern. Baru-baru ini, versi tagelmust Sahara telah menginspirasi syal trendi di Eropa. Dan tahun ini, rumah mode mewah Italia Valentino mengambil inspirasi dari daraa tradisional Sahara dalam merancang koleksi musim semi/musim panas 2021.

Karena semakin banyak tradisi budaya yang terancam punah di dunia yang serba cepat dan berubah saat ini, daraa biru dan tagelmusts masih terus bersinar dari Sahara ke seluruh dunia.

Sumber: BBC

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 13 Juni 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:56
Ashar
15:17
Maghrib
17:49
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)