LANGIT7.ID - Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan bersumber dari nilai-nilai Islam. Hal ini sejalan dengan pemikiran Mohammad Natsir, seorang Pahlawan Nasional. Ia dikenal sebagai tokoh Mosi Integral yang mengembalikan Indonesia ke bentuk Negara Kesatuan. Ia juga dikenal sebagai tokoh muslim yang sangat responsif dan antisipatif terhadap problematika umat islam dan bangsa Indonesia.
Majalah Serial Media Dakwah No 100, tahun 1962 memuat pernyataan Pak Natsir dan sejumlah tokoh muslim yang datang langsung ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), memprotes buku Pendidikan Moral Pancasila yang dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“PMP itu artinya Pendidikan Moral Pancasila. Saya termasuk generasi yang orang boleh menyebutkan generasi 3 masa. Masa penjajahan Belanda, masa jepang, dan masa kemerdekaan. Saya masuk generasi yang turut mengikuti perkembangan di waktu menyusun UUD kita,” kata Natsir.
“Waktu menyusun dan sesudah itu, sewaktu diproklamirkan pada tanggal 18 Agustus, tidak pernah saya merasakan atau mendengar bahwa Pancasila itu dimaksudkan sebagai sumber moral. Tidak pernah satu perkataan moral bagi beragama samawi tinggi sekali harkatnya. Moral bukan ciptaan dari pikiran-pikiran akal manusia semata.” demikian kutipan pernyataan Pak Natsir.
Baca Juga: Jasa Pahlawan dan Ormas Islam Buktikan Umat Islam Tulang Punggung Republik Indonesia
Pak Natsir menegaskan, tidak ada satu pun dari lima sila Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Namun, akan berbeda jika Pancasila secara sengaja diisi faham-faham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Jika faham-faham itu sudah dimasukkan, maka Pancasila tidak bisa menjadi Pemersatu Bangsa Indonesia. “Maka dia bisa menjadi buah pertengkaran terus-menerus,” kata Pak Natsir.
Kala itu, Pak Natsir dan para tokoh muslim merespon kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, yang memberlakukan buku PMP. Mereka menilai, banyak muatan buku itu yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Buku-buku PMP untuk SD-SMA dinilai bermuatan paham sinkretisme. Lalu, buku-buku itu dipaksakan kepada anak sekolah atas nama Pendidikan Moral Pancasila. “Ini suatu taktik yang tidak fair. Maka, jika kita berani menolaknya, kita dengar ancaman dari Menteri P&K. Siapa saja yang tidak mau menerima PMP, maka dia itu anti-Pancasila,” ucap Pak Natsir.
Pak Natsir menyebut, ungkapan ‘anti-Pancasila banyak dipakai sebagai alat pemukul golongan atau orang yang berbeda paham. Ia menilai kondisi itu sebagai sesuatu yang menyedihkan. Setelah merdeka, bangsa Indonesia justru kehilangan satu kekayaan yang sangat berharga, yakni perekat dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Apa mustika yang hilang itu? Mustika yang hilang itu adalah keterbukaan antara kita sama kita. Sekarang ini tak ada keterbukaan sama sekali,” kata Pak Natsir.
Pak Natsir dan tokoh muslim hadir ke DPR mengkritisi pemikiran dan kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang menjadikan Pancasila sebagai jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, kesadaran bangsa Indonesia, ditambah sebagai cita-cita moral bangsa Indonesia dan sebagai watak bangsa Indonesia.
“Kalau sudah begitu fungsi Pancasila, timbul pertanyaan dimana gerangan akan dapat tempat bagi agama di dalam kehidupan rohani bangsa Indonesia ini? di mana lagi dapat ditempatkan pola hidup Islam?” tulis Pak Natsir.
(jqf)