LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarah perjalalanan haji di Indonesia telah berlangsung berates-ratus tahun silam. Ibadah haji turut berkontribusi dalam kesuksesan penyebaran Islam sejak Indonesia belum didirikan.
Sulit mengetahui pasti siapa muslim nusantara pertama yang berangkat haji. Ada yang menyebut perjalanan haji pertama kali dilakukan pada abad ke-16, ada pula yang menulis pada abad ke-14. Praktik ibadah haji di nusantara tak lepas dari sejarah masuknya Islam.
Teori masuknya Islam ke nusantara dikelompokkan menjadi dua kategori, Pertama, teori yang disampaikan oleh WP Groeneveldt, TW Arnold, Syed Naguib al-Attas, George Fadlo Hourani, JC van Leur, Hamka dan Uka Tjandrasasmita dan lainnya yang mengatakan Islam datang pada abad Pertama Hijriah atau ke-7 M.
Kedua, teori yang diketengahkan C Snouck Hurgronje, JP Moquette, RA Kern, Haji Agus Salim dan lainnya, kata mereka kedatangan Islam dimulai pada abad ke-13 M. Teori ini lebih menyoroti bobot keberhasilan dakwah, karena pada saat itu symbol-simbol ajaran Islam sudah menguat.
Namun, ada beberapa nama yang muncul dalam literatur ketika mengulas perihal sejarah haji di nusantara. Pada abad ke-16, seorang penjelajah dari Roma, Ludovico di Barthema melihat jamaah haji dari kepulauan Nusantara yang dia sebut sebagai India Timur Kecil.
Kelompok haji itulah yang diduga sebagai jamaah haji pertama dari nusantara. Tapi, menurut M Shaleh Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia, jamaah haji yang dijumpai Ludovico itu bukanlah jamaah yang sengaja memberangkatkan diri untuk menunaikan rukun Islam kelima.
"Mereka adalah pedagang, utusan sultan, dan pelayar yang berlabuh di Jedah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekah,” tulis Shaleh.
Muhammad Iqbal, Sejarawan IAIN Palangka Raya dalam artikelnya di Alif.id menuliskan sebuah nama dari nusantara yang berangkat ke Mekkah untuk tujuan diplomasi, ibadah sekaligus menimba ilmu agama. Orang itu adalah Nurullah yang kemudian mahsyur dengan julukan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati.
Ia berangkat ke Makkah, setelah Pasai (kota kelahirannya), ditaklukkan oleh Portugis pada 1521. Sunan Gunung Jati berada di Kota Suci itu selama tiga tahun dan telah melaksanakan rukun Islam yang kelima, haji.
"Memerhatikan kondisi saat itu, keberangkatan Nurullah ke Makkah adalah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani agar mengusir Portugis dari Pasai. Kala itu, Makkah telah berada dalam kekuasaan Turki Utsmani. Meskipun Nurullah adalah utusan pemerintah, selama di Makkah dia mendapatkan kesempatan untuk belajar agama Islam," (Ricklefs 2001).
"Dus, haji Nusantara telah dimulai pada awal abad XVI dan selama abad itu, ia dilaksanakan oleh para pedagang dan diplomat. Mereka pergi ke Hijaz dengan maksud untuk berdagang atau melaksanakan tugas dari pem erintahnya, dan mereka memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji."
Sementara, sumber lain menyebutkan orang yang pertama kali berhaji adalah Bratalegawa, putra kedua prabu Pangandipara Marta Jayadewatabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh. Setelah mempersunting seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad ia memeluk Islam.
Atas dorongan guru agamanya, ia bersama istri pergi ke tanah suci menunaikan haji sehingga ia tercatat sebagai orang yang pertama menunaikan haji di kerajaan Galuh. Ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja. 1981: 47).
Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 M. Naskah kuno selain Carita Parahyang yang mengisahkan perjalanan haji orang-roang zaman dahulu adalah Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, wawacan Walang Sungsang, dan Babad Cirebon.
Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lainnya yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walang Sungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syeikh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.
Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Datuk Kahpi, Walang Sungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah-diduga antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa, untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam.
Dalam perjalanan ibadah haji, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dan Dinasti Fatimiyah dan berputra dua orang yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450).
(asf)