LANGIT7.ID - Membuat anak betah di pondok pesantren menjadi salah satu tantangan orang tua maupun para pengasuh pesantren. Kerap santri yang baru mondok sulit terpisah dari orang tua, ataupun sering teringat dengan kenyamanan tinggal di rumah.
Betah menjadi kunci bagi anak untuk menyerap ilmu dengan baik. Seorang anak susah mencerna dan memahami setiap ilmu yang diajarkan jika merasa bosan, lelah, dan pikiran ke mana-mana. Di sisi lain, anak betah di pondok juga membuat orang tua merasa nyaman dan tenang mencari rezeki untuk biaya pendidikan anak.
Maka itu, orang tua maupun wali santri harus mengetahui cara menyikapi anak yang tidak betah mondok. Lalu, bagaimana caranya?
Dai kondang, Buya Yahya, menjelaskan, ketika memasukkan anak ke pondok pesantren, orang tua juga harus bersikap sebagai pendidik. Orang tua harus bersikap bijak menyikapi keluh kesah sang anak. Anak yang masih remaja atau beranjak dewasa belum bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan tak mampu mengatur kata-kata yang diucapkan.
“Jadi, sebagai orang tua menyikapi anak yang mengeluh jangan ditelan mentah-mentah dan jangan sampai mengabaikan juga,” kata Buya Yahya melalui kanal youtube Al-Bahjah Tv, dikutip Rabu (24/11/2021).
Kadang, anak yang sudah nyantri bersikap manja hingga melebihkan cerita demi mendapat perhatian lebih dari orang tuanya. Pada kondisi itu, orang tua harus menyadari agar tidak menelan mentah-mentah setiap omongan anak, untuk menghindari dampak negatif kepada anak.
Selain itu, jika anak melapor tentang hukuman di pesantren, maka orang tua tidak boleh menerima mentah-mentah, akan lebih baik tabayyun terlebih dahulu. Para pengasuh pondok kerap memberikan hukuman untuk mendidik. Pondasi dari hukuman itu adalah pendidikan. Orang tua harus melihat dari sisi itu.
“Saya saja dulu ketika mondok dihukum ustadz, tangan sampai merah, pas laporan ke ummi malah saya bilang, ‘itu yang dipukul setan yang ada pada dirimu’,” ucap Buya Yahya.
Tabayyun menjadi solusi terbaik untuk masalah tersebut. Orang tua mesti bicara baik-baik dengan ustadz terlebih dahulu. Lebih bijak jika mengajak ustadz berdiskusi terkait hukuman tersebut. Sebab, jika langsung percaya begitu saja kepada anak, bisa-bisa santri itu tidak bisa berubah.
“Jika ada kejanggalan maka yang terbaik adalah langsung tabayyun ke ustadznya setelah mendapat laporan dari anak,” tutur Buya Yahya.
(jqf)