LANGIT7.ID - , Jakarta - Perusahaan elektronik, Electrolux bersama Zero Waste Indonesia berkolaborasi mengkampanyekan pola makan berkelanjutan untuk mengurangi limbah makanan.
Saat ini 30 persen emisi global, berasal dari produksi makanan, namun sepertiga atau 1,3 milyar ton diproduksi terbuang sia-sia setiap tahunnya. Tingginya sampah makanan yang terbuang berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat yang masuk kurang terhadap pola makanan berkelanjutan.
Baca juga: Nana Mirdad dan Andrew White Kompak Terapkan Pola Makan Sehat dalam Keluarga“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meringankan dampak iklim, dan mengonsumsi lebih banyak makanan nabati adalah salah satu cara paling sederhana. Beralih ke pola makan nabati dapat membantu mengurangi dampak terhadap lingkungan dalam hal emisi karbon, jumlah oksigen, degradasi tanah, dan persediaan air,” kata PR Manager Zero Waste Indonesia Fildzah Amalia, dalam acara kampanye Electrolux Make It Last (Taste) Selasa (30/11/2021).
Zero Waste Indonesia (ZWID) sendiri merupakan komunitas berbasis online pertama di Indonesia, yang didirikan oleh oleh Maurilla Imron dan Kirana Agustina di tahun 2018. Tujuan berdirinya komunitas ini adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia menjalani gaya hidup nol sampah (Zero Waste Lifestyle).
Kondisi di Indonesia sangat ironis sekali. Di satu sisi sebagai penyumbang sampah makanan terbanyak dan disisi lain masih banyak masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi.
"Menurut data yang ada di kami, 40% dari total sampah di Indonesia adalah sampah makanan. Dan sayuran yang paling menyumbangkan sampah makanan." sebut Fildzah Amalia yang akrab disapa Icha.
Sayuran merupakan makanan dengan sumber gizi yang paling banyak, sayang sekali ternyata menjadi yang terbanyak menjadi limbah. Sampah sayuran ini bukan hanya berasal dari dapur, tapi juga dari sayuran yang tidak laku terjual sehingga membusuk.
"Hal ini sangat memprihatikan mengingat 90 persen lebih orang di Indonesia di atas umur 50 tahun, kekurangan gizi dari sayuran. Sedangkan tubuh membutuhkan 400 gram sayuran dan buah dari makanan sehari-hari," kata Icha.
Rasa prihatin terhadap kondisi ini membuat ZWID hadir untuk kesetaraan. Menurut ZWID, sampah makanan itu berakibat buruk bagi manusia juga bumi. Karena itu dibutuhkan gerakan yang bisa mengubah, setidaknya dengan mengurangi sampah sayuran dan buah dan menjadikannya lebih banyak dikonsumsi masyarakat luas.
Agar misi tersebut dapat berhasil, ZWID menganjurkan masyakarat untuk membuat pola 6R yang bisa diterapkan dalam keseharian.
Pertama melalui rethink, memikirkan kembali sebelum membeli apakah dibutuhkan atau tidak. Sehingga makanan yang sudah dibeli tersebut tidak mubazir karena berlebihan hingga akhirnya malah menjadi sampah.
Kedua, melakukan reduce atau mengurangi sesuatu yang bisa mengakibatkan sampah. Lalu, dengan repair atau memperbaiki barang-barang sebelum menjadi sampah.
Selain itu, masyarakat juga bisa menerapkan refuse dengan menolak barang-barang yang bisa menjadi sampah. Kurangi menerima barang yang berpotensi jadi sampah juga dengan mengurangi pembungkus plastik, dengan memilih alternatif lain yang lebih ramah lingkungan.
Langkah kelima dengan reuse, memakai barang-barang yang masih bisa digunakan dan terakhir recycle yaitu mengolah atau mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bermanfaat.
Baca juga: Mengapa Perlu Gaya Hidup Zero Waste? Rawat Bumi Sekaligus IslamiSelain pola 6R di atas, untuk memulai mengurangi sampah makanan, buat cara sederhana dirumah dengan memilah sampah.
"Buat sampah menjadi dua tempat, organik dan anorganik. Sampah dapur dimasukkan ke sampah organik, sedangkan sampah plastik dan sejenisnya masuk ke sampah anorganik." papar Icha.
Agar bisa terlaksana program ini, maka pemisahan sampah harus diketahui dan didukung oleh seluruh anggota keluarga yang ada di rumah.
Selain itu, perubahan gaya hidup untuk mengurangi sampah makanan tidak perlu menunggu datangnya gerakan atau program terlebih dahulu. Melainkan tumbuhkan kesadaran dalam diri sendiri.
"Lakukan dari diri sendiri, ambil langkah paling kecil yang dimulai dari diri sendiri. Tumbuhkan kesadaran, karena dengan kesadaran lifestyle akan berubah dengan sendirinya." pungkas Icha.
(est)