LANGIT7.ID, Jakarta - Kerajaan Arab Saudi memperbarui aturan penerbangan internasionalnya di mana mulai 1 Desember 2021, penerbangan dari Indonesia bisa langsung menuju ke Arab Saudi. Kebijakan ini merupakan angin segar bagi pelaksanaan ibadah umrah.
Kementerian Agama RI pun tengah menyiapkan serangkaian kebijakan penyelenggaraan ibadah umrah 1443 H/2021 M yang akan menjadi simulasi terbukanya pintu bagi jamaah haji Indonesia, yang menjadi kerinduan umat Islam di Indonesia agar dapat segera berziarah ke Baitullah.
Berikut lima tema khutbah Jumat yang dapat dibawakan seiring dengan momentum dicabutnya
suspend penerbangan dari Indonesia ke Arab Saudi. Semoga tema khutbah Jumat kali ini menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji maupun umrah.
Baca Juga: Pemerintah Saudi Cabut Aturan Karantina untuk Jamaah Umrah, Ini Syaratnya1. Haji dan Umrah di Zaman RasulullahSemasa hidupnya, Rasulullah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali, yakni dua sebelum hijrah ke Madinah dan satu kali setelah hijrah. Adapun umrah, Rasulullah melakukannya sebanyak empat kali, yakni satu kali di bulan Dzul Qa'dah, umrah Hudaibiyah, umrah bersama haji, dan umrah Ji'ronah tatkala membagi harta rampasan perang Hunain.
Sementara itu, pembatalan keberangakat atau penangguhan ziarah ke Baitullah sebagaimana yang terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda dunia saat ini ternyata juga pernah terjadi pada era Rasulullah. Rasulullah pernah mengalami pembatalan umrah pada tahun keenam Hijriah karena dilarang kaum Quraisy.
2. Sai: Mendahulukan Ikhtiar Sebelum Tawakal Sa’i adalah adalah berlari-lari kecil dan dilakukan di antara bukit Safa dan Marwah. Sa’i dilakukan setelah thawaf ifadhah atau tawaf qudum. Sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali, dimulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwah. Prosesi ibadah mengajarkan ikhtiar sebelum tawakal.
Baca Juga: Dirjen PHU: Asrama Haji Pondok Gede Layak Jadi Tempat Karantina Jemaah UmrahSa’i tak lepas dari kisah Hajar ibunda Ismail yang berlarian dari bukit Safa ke Marwah dan sebaliknya untuk mencari sumber mata air. Hajar terus lari-lari kecil sampai tujuh kali sebelum akhirnya Allah memunculkan sumber mata air yang kini dikenal sebagai sumur zam-zam.
3. Belajar Komunikasi Keluarga dari Nabi IbrahimIbadah haji maupun umrah pada hakikatnya mengandung nilai-nilai pembangunan keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Ka’bah, Shafa dan Marwah, sumur zam-zam, Hijr Ismail serta elemen-elemen ibadah haji tak lepas dari peranan keluarga Nabi Ibrahim.
Atas perintah Allah, Ibrahim membawa istri dan putranya, Hajar dan Ismail dari Syam ke sebuah padang pasir tandus berates-ratus kilometer jaraknya yang kini dikenal sebagai Makkah Al Mukaramah. Di tanah gersang itu, Hajar dan Ismail bertahan hidup tanpa ditemani Ibrahim.
Keluarga Ibrahim berlandaskan ketaatan kepada Allah mampu membangun komunikasi yang baik antara suami dengan istri, ibu dengan anak, dan ayah kepada keluarganya. Termasuk bagaimana sikap keluarga ini ketika Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail.
Baca Juga: Gubernur Makkah Komitmen Pelayanan Jamaah Haji-Umrah Indonesia4. Sebaik-Baik Bekal Ibadah Haji dan UmrahProsesi ibadah haji dan umrah memerlukan kesiapan jasmani, rohani, dan materi. Karenanya, seorang muslim yang hendak berziarah ke Baitullah harus menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Bekal haji dan umrah meliputi niat yang ikhlas, ilmu, dan bekal kesehatan.
Haji dan umrah juga termasuk sebagai ibadah yang sangat menguji mental. Calon haji atau umrah dituntut bersabar dan kuat hati menghadapi segala cobaan sebelum keberangkatan, saat di lokasi, dan saat tiba di rumah kembali.
Baca Juga: Polri Komitmen Rekrut Santri dan Penghafal AlquranFirman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 197: "(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"
5. Hajar Aswad, Memuliakan yang Dimuliakan RasulullahHajar Aswad adalah bongkahan batu berwarna hitam yang terletak di sudut Ka’bah. Mencium Hajar Aswad merupakan sunnah dalam ibadah haji maupun umrah. Namun jika tidak dapat menciumnya, cukup memberikan isyarat dari jarak jauh.
Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khaththab) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Awas Bahaya Istidraj, Allah SWT Biarkan Kita Tertipu Kenikmatan Sejatinya Kemurkaan(zhd)