LANGIT7.ID - , Jakarta - Muhasabah atau introspeksi diri sering dilakukan menjelang akhir tahun. Bila dilihat dari sisi bahasa, muhasabah berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari kata hasaba - yahsubu - hisaaban yang artinya menghitung.
Jadi, secara bahasa musahabah berarti seseorang yang menghitung ulang atau mengevaluasi. Ada juga yang mengartikan muhasabah dengan istilah introspeksi yang berarti koreksi diri atau mawas diri dengan melihat perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan terkait dengan diri sendiri.
Baca juga: Muhasabah: Hidup Sepenuh SyukurIslam menganjurkan umatnya untuk bermuhasabah atau proses penyucian jiwa diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tindakan ini dilakukan sekaligus untuk memberi kesadaran pada diri dari kelalaian.
Muhasabah dalam alquran dan hadistDalam Alquran dijelaskan secara eksplisit terkait anjuran untuk muhasabah, seperti yang tertuang dalam surat Al-Hasyr ayat 18,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). dan (sekali lagi diingatkan), bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti akan segala yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Dalam ayat ini dijelaskan perintah kepada orang beriman untuk introspeksi terkait pekerjaan atau amalan yang sudah dilakukan, adakah yang amalan tersebut baik untuk persiapan di akhirat kelak.
Muhasabah juga disebutkan dalam hadist, dimana Rasulullah SAW pernah menyinggung umatnya untuk introspeksi diri sebelum perhitungan yang sebenarnya di akhirat kelak.
Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).
Tujuan muhasabahSelain untuk mengoreksi diri atau melihat kembali hal-hal yang kurang baik dilakukan, muhasabah juga bermanfaat untuk membentuk diri jadi lebih bertanggung jawab.
Dengan melakukan penyucian jiwa melalui muhasabah, paling tidak bisa membantu manusia untuk menilai kekurangan atau kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Bila mengacu pada hasil, introspeksi diri yang dianjurkan dalam Islam ini berpotensi meningkatkan amal manusia. Juga memberi ketenangan dalam mempersiapkan hari akhir.
Seperti dijelaskan sebelumnya, muhasabah memiliki manfaat yang baik bagi hidup seseorang. Maka bila tidak dilakukan, orang akan menutup mata terhadap dosa yang perbuat, seolah-olah itu bukan bentuk kesalahan.
Baca juga: Tahun Baru Hijriah, Momen Muhasabah kala Pandemi Covid-19Misalnya berkata kasar pada orang terdekat. Bila tak melakukan muhasabah, perkataan yang bisa menyakiti orang lain dianggap sebagai hal yang wajar dilakukan.
Selain itu, tanpa muhasabah juga manusia bisa larut dalam keadaan, sehingga mudah dikendalikan situasi. Contohnya, ketika larut dengan pujian dan pencitraan, membuat orang akhirnya melakukan berbagai kebaikan dan amal hanya karena mengejar pujian dan pencitraan.
Padahal amal yang disertai dengan riya' untuk pencitraan dan pujian, hanya akan menghapus amalan tersebut.
Tanpa menghitung kesalahan atau dosa yang sudah diperbuat, bisa berdampak buruk pada pemikiran bahwa taubat itu mudah. Padahal nyawa seseorang dicabut oleh Malaikat Izrail tanpa diketahui dan izin oleh pemilik nyawa tersebut. Artinya kematian bisa datang tiba-tiba, untuk itu hendaklah kita selalu muhasabah untuk mengevaluasi sudah sejauh mana amal ibadah kita.
Mudah melakukan perbuatan dosa bisa jadi dampak dari orang yang tidak bermuhasabah, karena menyepelekannya. Misalnya seseorang yang sering membully temannya akan terus melakukannya karena tidak pernah menghitung dampak dari perbuatannya tersebut. Khususnya bagi korban penindasannya itu.
Cara melakukan muhasabahAgar dapat menjadi muslim rendah hati dan tawadhu, ada baiknya sering bermuhasabah. Ada empat cara yang dianjurkan Imam Ghazali dalam kitab "Mukasyafatul Qulub" agar seseorang bisa muhasabah diri dan mengetahui apa kekurangannya.
1. Duduk di hadapan seorang syaikh yang bisa melihat aib dan kekurangan diri, minta pengarahan darinya untuk menunjukkan kekurangan yang ada sekaligus meminta solusi bagaimana menutupi kekurangan-kekurangan tersebut.
2. Meminta kepada sahabat yang jujur dan baik dalam beragama untuk mengawasi dan mengingatkannya serta menunjukkan kepadanya kekurangan dirinya. Demikianlah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang shalih dan para ulama terdahulu.
3. Memanfaatkan lidah para musuh dengan memanfaatkan untuk mengetahui celah-celah diri dan kemudian memperbaikinya. Musuh yang selalu dapat menunjukkan dan memberikan masukan tentang kekurangan kita, jauh lebih bermanfaat daripada kawan yang hanya bisa memuji dan membenarkan kita dalam setiap tindakan.
4. Memperluaskan pergaulan dan interaksi. Seorang Mukmin adalah cermin dari saudaranya. Dia dapat memerhatikan tingkah laku orang-orang yang ada di sekitarnya untuk memperbaiki dirinya. Apa yang baik dicontohnya dan apa yang buruk dari perilaku mereka segera ditinggalkannya.
Waktu terbaik untuk muhasabahMelakukan muhasabah kapan sebaiknya dilakukan? Apakah setiap akhir tahun saat malam pergantian tahun?
Baca juga: Din Syamsuddin: Wabah itu Musibah, Perlu Disikapi dengan MuhasabahOrang yang bijak, kata Imam Al-Ghazali, sebaiknya melakukan muhasabah atau introspeksi diri dua kali sehari, pada pagi dan sore hari, kemudian pada awal dan akhir pekan, dan awal serta di pengujung tahun.
Jadi, tidak ada ketentuan bahwa muhasabah atau introspeksi diri dilakukan pada akhir tahun saja, karena muhasabah atau introspeksi diri bisa dilakukan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.
(est)