LANGIT7.ID - , Jakarta - Studi terbaru dari National University Health System (NUHS) mengungkapkan bahwa mayoritas wanita yang berusia paruh baya dan aktif secara seksual, mengalami disfungsi seksual.
Penelitian yang dirilis media pada Rabu, (1/12/2021) melibatkan 1.048 responden wanita dari berbagai etnis dengan rentang usia 45-69 tahun. Dari populasi tersebut ditemukan sebanyak 57 persen responden aktif secara seksual.
Baca juga: 6 Manfaat Puasa Senin-Kamis bagi Kesehatan yang Jarang DiketahuiRiset tersebut menggunakan metode kuisioner mendapatkan pandangan komprehensif akan kesehatan wanita, termasuk aspek-aspek seperti fungsi fisik, kesehatan tulang, kesehatan menopause, dan kesehatan urogenital.
Hasilnya 70 persen wanita mengalami disfungsi seksual, yang ditandai dengan kurangnya minat atau gairah seksual, ketidakmampuan untuk orgasme dan atau mengalami nyeri genital pada alat kelamin.
Studi ini juga menyoroti faktor risiko yang terkait dengan disfungsi seksual wanita, yang meliputi kekeringan vagina, bertambahnya usia, status pasca menopause, menstruasi, tidak melahirkan, gejala depresi yang lebih tinggi, indeks masa tubuh yang lebih rendah dan kekuatan genggaman yang lebih lemah.
"Kekeringan vagina adalah faktor risiko terbesar disfungsi seksual wanita," kata Profesor Yong Eu Leong, yang memimpin penelitian ini.
Studi ini juga menunjukkan bahwa kekeringan vagina dengan intensitas sedang hingga parah dikaitkan dengan wanita yang lebih dari 10 tahun pasca menopause. Hal ini menegaskan kembali temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bagaimana fungsi seksual dapat memburuk dengan status menopause yang lebih lanjut.
Masih dalam hasil studi ini, mengobati menopause menggunakan terapi penggantian hormon membantu melindungi terhadap disfungsi seksual. Prof Yong menambahkan bahwa pengobatan tersebut dapat mengurangi risiko secara signifikan hingga 70 persen.
Baca juga: 7 Hal Wajib Orang Tua Lakukan untuk Kesehatan Emosional AnakNUHS mengatakan penelitiannya didorong oleh kurangnya diskusi tentang masalah seksual di antara wanita di Asia yang berusia paruh baya selama perawatan medis, karena "Rasa malu, kepekaan agama dan nilai-nilai budaya Timur", katanya seperti dikutip dari Channel News Asia, Ahad (4/12/2021).
“Fungsi seksual wanita di Asia kurang dilaporkan, kurang dirawat, dan kurang dipelajari,” katanya, seraya menambahkan bahwa pihaknya sedang mengerjakan studi selanjutnya untuk membantu membangun temuan penelitian.
(est)