Langit7, Jakarta - Situasi pandemi Covid-19 berdampak signifikan pada ketahanan masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Indonesia saja, melainkan seluruh dunia.
Hal itu menjadikan seluruh negara di dunia mengambil langkah luar biasa, baik dari segi fiskal maupun moneter. Pada 2020 lalu, total stimulus global untuk kesehatan, dan perlindungan sosial mencapai sekitar USD12 triliun.
"Perekonomian global kini mulai perlahan pulih meski tidak merata. Hingga November 2021 pemulihan ekonomi global terus berlanjut tapi mengalami pelemahan," kata Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan di Webinar Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah:
Sharia Economic and Financial Outlook 2022, Jumat (3/12).
Baca juga: Bisnis Menjanjikan Arang Briket, Ekspor hingga AzerbaijanSelain pandemi, dunia saat ini juga mengalami tantangan lain, seperti perubahan iklim dan reformasi digital. Cara mengatasi permasalahan tersebut telah menjadi prioritas jalur keuangan Presidensi G20.
Sejak Agustus 2021, karena pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat, pertumbuhan PDB Indonesia pada triwulan II - 2021, membawa perekonomian Indonesia melampaui tingkat sebelum pandemi.
Arah pemulihan ekonomi dari sisi permintaan juga telah relatif merata, baik dari sisi produksi, konsumsi, investasi, ekspor dan impor.
"Namun ancaman varian virus baru telah menyebabkan ketidakpastian. Bagi Indonesia, ketidakpastian ini menjadi momentus reformasi," jelasnya.
Baca juga: Maruf Amin: Kolaborasi Tingkatkan Jumlah PengusahaSaat ini, reformasi struktural telah mulai meningkatkan sumber daya manusia di tanah air. Di mana dalam UUD 1945 negara memiliki tujuan dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) terbukti tangguh menghadapi krisis pandemi. Bank Indonesia sendiri mencatat sektor halal atau value chain pertanian dan pangan tetap menunjukkan pertumbuhan positif," kata dia.
Pertumbuhan sektor itu, lanjut dia, diperkuat dengan peningkatan konsumsi e-commerce pada produk halal. Sehingga sudah sepatutnya lembaga keuangan syariah berkolaborasi dengan industri halal.
Di mana lembaga keuangan syariah memberikan pembiayaan untuk para pelaku industri halal, sementara pelaku industri halal menjadi nasabah setia bagi lembaga keuangan syariah.
"Kolaborasi yang saling menguntungkan ini akan mempercepat pertumbuhan lembaga keuangan syariah dan industri halal," jelasnya.
Baca juga: PLN Utamakan Keselamatan dalam Pulihkan Listrik PelangganSelain itu, fundamental pasar modal syariah dan industri keuangan non bank syariah masih terjaga dengan baik. Di mana pada pasar modal syariah global, Indonesia merupakan kontributor utama dalam penerbitan sukuk di pasar internasional, setidaknya 23,11 persen dari penerbitan global.
Di tengah ketidakpastian pasar global akibat pandemi, pada Juni 2021 pemerintah berhasil menerbitkan sukuk hijau berdaulat di pasar global senilai USD750 juta.
"Saat ini ekonomi Islam telah menjadi daya tarik baru dalam perekonomian global. Di mana populasi muslim dunia diperkirakan meningkat 26,4 persen menjadi 2,2 miliar orang atau seperempat dari populasi global pada 2030," jelasnya.
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia berpeluang dapat mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Sehingga perlu digali dan dioptimalkan.
"Harapannya, eksyar tidak hanya kokoh di saat krisis tapi juga harus mampu tumbuh tinggi pascakrisis," tambahnya.
(zul)