Langit7, Jakarta - Perekonomian Indonesia di masa krisis akibat pandemi Covid-19 diyakini masih cukup baik. Hal itu seiring dengan melandainya kasus penularan Covid-19 di Tanah Air.
Upaya pemulihan ekonomi itu dilakukan pemerintah dengan mengakselerasi pelaksanaan vaksinasi. Tercatat dari 208,26 juta target vaksinasi dosis 1 dan 2, telah tercapai 151,32 juta penduduk atau 77,46 persen dosis 1, dan 113,85 juta penduduk atau 54,67 persen untuk dosis 2.
Sementara vaksinasi dosis 3 telah diberikan kepada 1,29 juta penduduk atau sebesar 87,75 persen dari target. Upaya vaksinasi juga telah diperluas dan diakselerasi bagi kelompok anak-anak usia 6 hingga 11 tahun.
Baca juga: Pemerintah Gerakkan UMKM Pulihkan Ekonomi NasionalIndeks Keyakinan Konsumen Indonesia juga sudah berada di angka 118,5. Ekspor Indonesia kuartal III-2021 naik 29,16 persen, sedangkan impor naik 30,11 persen. Indonesia juga memiliki cadangan devisa di atas USD140 miliar dan neraca perdagangan secara akumulatif surplus sebesar USD34,32 miliar.
“Penanganan krisis akibat Covid-19 dalam setahun sudah bisa
recover. Ini memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi kita masih sangat baik,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Senin (3/1).
Capaian itu juga sejalan dengan laporan World Bank yang menilai Indonesia memiliki kebijakan fiskal yang prudent. Juga kebijakan moneter yang tepat, termasuk reformasi struktural yang dilakukan secara masif.
“Dibandingkan dengan berbagai
emerging countries, Indonesia juga stand out karena tiga kebijakan tersebut,” tambah Airlangga.
Baca juga: Pertanian Mampu Perkuat Ekonomi UmmatAirlangga menyebutkan, kembali positifnya indeks saham menjadi hal positif. Apalagi sebagian besar nasabah dari sektor retail atau individual.
Hal itu diyakini menciptakan struktur pasar modal yang lebih kuat. Sedangkan untuk investasi, pemerintah tengah mengerjakan Proyek Strategis Nasional yang mendorong masuknya investasi lebih dari Rp5.000 triliun.
"Dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), terutama di sektor yang pertumbuhannya tinggi selama pandemi, seperti Nongsa
Digital Park, termasuk juga di sektor
renewable energy, seperti
solar farm, juga banyak diminati oleh investor," jelasnya.
Lebih lanjut, dengan adanya Forum G20 di Indonesia diharapkan dapat memacu tenaga kerja hingga konsumsi. G20 diyakini dapat memberikan
multiplier effect yang besar bagi Indonesia dan menyerap sekitar 33.000 pekerja di sektor Horeka dan event untuk kegiatan tersebut.
“Presidensi G20 Indonesia ini diharapkan domestik
impact-nya lebih tinggi dari pertemuan IMF dan World Bank di Bali 2018 lalu,” tambahnya.
Baca juga: Lanjut, Rp11 Triliun Disiapkan untuk Program Kartu Prakerja 2022(zul)