LANGIT7.ID - Nama Syekh Daud Abdullah Al-Fathoni barangkali kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun ternyata Ulama asal Negeri Gajah Putih ini memiliki pengaruh signifikan tak hanya di Nusantara namun hingga ke Tanah Suci.
Syekh Daud merupakan keturunan bangsawan dari jalur sang ibu, Wan Fatimah, yang memiliki nasab sampai ke Raja Champa Maulana Israil. Sementara sang ayah, Syekh Abdullah bin Syekh Wan Idris bin Tok Wan Abu Bakar bin Tok kaya Pandak bin Andi Ali Datok Maharajalela merupakan ulama besar.
Nama Fatani merupakan sebua nama daerah di bagian selatan Thailand yakni Patani. Pemilik nama asli Syekh Wan Daud bin Syekh Abdullah bin Syekh Wan Idris al-Fatani itu lahir pada 1721 M di Krue Se, salah satu desa di Patani. Lahir dari seorang ulama menjadikan Syekh Daud hidup di ruang lingkup keislaman yang kuat.
Memang, sejak kecil Syekh Daud sudah diajari ilmu pengetahuan Islam di bawah langsung orang tua. Sejak berumur 7 tahun, ia sudah diajari bahasa arab lalu memperdalam ilmu nahwu sharaf.
Ia juga mempelajari Islam di pondok-pondok di daerah Krue Se selama 5 tahun. Kala itu, banyak ulama-ulama dari Timur Tengah yang mengajar di daerah tersebut. Tak sampai di situ, ia kembali memperdalam ilmu agama di Aceh selama 2 tahun sebelum berangkat ke Mekkah dan Madinah.
Baca Juga: Syekh Abdurrauf As-Sinkili, Pelopor Tafsir Al-Quran di Nusantara
Di Tanah Arab, ia menghabiskan 30 tahun untuk belajar dengan para ulama di sana. Di sana beliau sempat belajar kepada Isa bin Ahmad al-Barawi (w. 1182 H/1768 M) tujuh tahun sebelum belajar kepada a-Sammawi (w. 1189 H/1775 M).
Di samping itu, dia juga belajar kepada Al-Syarqawi, Syekh Al-Azhar, dan Muhammad Nafis. al-Syarqawi merupakan ulama ilmu hadits, syariah, kalam, dan tasawuf. Selain itu, beliau belajar kepada ulama-ulama ternama Timur Tengah pada masa itu.
Tak heran, jika di kemudian hari ia dikenal sebagai salah satu alim yang mengajar di Masjidil Haram. Dia sempat menjabat sebagai ketua perkumpulan pelajar Asia Tenggara. Di sini, ia dikenal sebagai Syekh Haji.
Keilmuan Syekh Daud tak perlu diragukan lagi. Dia melahirkan banyak karya tulis. Dalam bidang fikih, beliau menulis Bughyatu al-Tullab, Furu'u al-Masail, Hidayatul al-Muta'allim, Fathu al-Mannan, dan Jawahiru al-Saniyah.
Kitab-kitab itu diperuntukkan bagi orang yang mulai mempelajari tasawuf. Itu terlihat dari bagian akhir karyanya, Syekh Daud mencantumkan perkara-perkara tasawuf.
Di bidang tasawuf, dia juga memiliki karya terkenal yakni Jami'ul al-fawaid. Corak tasawuf yang diikuti oleh Syekh Daud beraliran Ghazalian. Dia juga menulis buku Wurdu al-Zawahir. Di kitab itu, dia menekankan jika dirinya menolak paham ittihad yang ada dalam kalangan sufi.
Dalam bukunya, dia mencoba memperingati orang awam yang berlagak sebagai seorang sufi hanya di aspek fisik semata. Bagi dia, hal seperti itu dapat menyesatkan masyarakat hingga membelokkan pola keilmuan yang ada.
Di sisi lain, Syekh Daud juga menerjemahkan kitab klasik ke dalam bahasa Melayu. Dia menerjemahkan kitab Minhaj al-'Abidin karya Imam Al-Ghazali dan kitab Kanzu al-Minan karangan Ibn Madyan.
Ulama yang Mengagumi Imam Al-Ghazali Syekh Daud sangat mengagumi Imam Al-Ghazali. Dalam mukaddimah kitab terjemahan Minhaj al-'Abidin, dia menyebut Imam Ghazali sebagai Alim Rabbani dan Arif Shamadani ialah quthubul wjud yang memiliki kasyf dan syuhud dengan Hujjatul Islam.
Sebagai pengagum Al-Ghazali, tentu pemikiran Syekh Daud mengikuti jejak tasawuf Al-Ghazali. Mendalami tasawuf bagi dia pun dimulai dengan syariat. Dia melestarikan harmonisasi antara syariat dan hakikat.
Syekh Daud bin Abdullah al-Fatani wafat pada 1850 pada usia kurang lebih 80 tahun. Pendapat berbeda disampaikan oleh Nik Tikat yang mengatakan, Syekh Daud wafat pada 1847. Makamnya berada berdekatan dengan Abdullah Ibn Abbas di Thaif.
(jqf)