LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), meminta para pelajar muslim memahami hirarki belajar dalam Islam. Hirarki yang dimaksud ialah membuat skala prioritas antara ilmu alat dan tujuan belajar.
Dalam Islam, tujuan utama belajar adalah menyingkap mutiara-mutiara hikmah di dalam Al-Quran dan mengambil hidayah dari hadits. Menyelam ke dasar ilmu tersebut memerlukan ilmu alat yang menunjangnya. Dia Mencontohkan belajar
nahwu sharaf untuk memahami Al-Qur'an.
Niat perlu ditata terlebih dahulu sebelum belajar. Memahami ilmu
nahwu sharaf agar mengerti bahasa Arab. Dari situ, orang yang mengerti bahasa Arab bisa memahami kedalaman makna yang terkandung dalam Al-Qur'an.
"Ilmu
nahwu sharaf adalah alat untuk mempunyai tujuan, untuk memahami Al-Qur'an. Belajar Al-Qur'an saja itu sudah pahala," kata Buya Yahya melalui kanal youtube Al-Bahjah TV, dikutip Sabtu (8/1/2022).
Dari sini pula muncul skala prioritas dalam mempelajari suatu bidang ilmu. Bagi orang sibuk atau pun yang sudah sepuh, belajar Al-Qur'an lebih prioritas ketimbang belajar
nahwu sharaf.
"Jadi, kalau waktu anda terbatas, maka membaca dan menghafal Alquran tentu diutamakan, karena diulang-ulang membaca Al-Qur'an adalah pahala," ucap Buya Yahya.
Ada kekeliruan yang sering terjadi di kalangan para pelajar muslim. Banyak darii mereka menjadikan ilmu alat sebagai tujuan. Mereka sangat pandai menguraikan hukum tata bahasa Arab, demikian pula bercakap-cakap memakai bahasa padang pasir tersebut.
Namun, mereka awam dalam memahami Al-Qur'an dan hadits. Kekeliruan dalam menempatkan prioritas belajar tentu menjadi penyebab. Pelajar itu terlalu bersemangat mendalami bahasa Arab, sehingga lupa jika tujuan belajar tata bahasa untuk memahami Al-Qur'an dan Sunnah.
Yang sering salah kita itu dulu adalah alat kita jadikan tujuan. Ilmu alat untuk menuju tujuan, belajar nahwu sharaf agar kita mengerti bahasa Arab, kalau mengerti bahasa Arab untuk apa? untuk mengerti Alquran dan hadits, tidak boleh berhenti di ilmu saja.
"Kalau berhenti di ilmu alat saja, tidak dapat pahala setelah itu. Orang kafir juga belajar
nahwu sharaf, karena hanya ingin berbahasa Arab. Tapi orang muslim beda, belajar nahwu sharaf untuk mempelajari ilmu tujuan," kata Buya Yahya.
Sama halnya ilmu
ushul fikih.
Ushul fikih hanya alat, tentu untuk mengurai hukum syariah dan memahami Al-Qur'an. Tidak boleh hanya berhenti pada
ushul fikih saja.
"Akan ada pahalanya kalau bercita-cita jika ingin sampai maksudnya, yaitu paham Al-Qur'an, paham makna makna Al-Qur'an,dan paham hadits nabi," kata Buya Yahya.
Setidaknya ada empat ilmu praktis yang harus dipelajari. Fikih praktis untuk mengetahui halal-haram berkenaan dengan
fardhu 'ain, akidah praktis yakni berkaitan dengan keimanan, akhlak praktis seperti akhlak kepada orang tua dan kepada Allah, serta membaca Al-Qur'an.
"Saat menganggur belajar empat hal ini. Ilmu alat tidak masuk di sini, nahwu sharaf tidak masuk di sini. Kalau fokus di ilmu alat, nanti tidak memulai berzikir. Kalau hanya belajar ilmu alat dan tidak sampai pada tujuan, berarti anda salah dalam memahami alat," kata Buya Yahya.
(jqf)