Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menjelaskan, sidang isbat mempertimbangkan informasi awal berdasarkan hasil perhitungan secara astronomis (hisab) dan hasil konfirmasi lapangan melalui mekanisme pemantauan (rukyatul) hilal.
Kriteria baru MABIMS menetapkan bahwa secara astronomis, hilal dapat teramati jika bulan memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasinya minimal 6,4 derajat.
pada hari pelaksanaan rukyat atau pemantauan, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk. Yaitu berkisar antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit.
Sidang akan digelar secara tertutup setelah shalat Magrib. Selain data hisab (informasi), sidang isbat juga akan merujuk pada hasil rukyatul hilal (konfirmasi) yang dilakukan Tim Kemenag pada 101 lokasi di seluruh Indonesia.
Sidang isbat merupakan wadah musyawarah para pakar astronomi dan falak, ulama, lembaga terkait serta pemerintah dalam menentukan awal Ramadhan. Sehingga hasil yang diputuskan dapat menghilangkan segala perbedaan.
Awal Ramadhan 2022 di Indonesia diperkirakan akan mengalami perbedaan. Hal tersebut karena penggunaan metode penentuan awal bulan Hijriah yang variatif di Indonesia.
Ahli astronomi dan astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, mengatakan, teknologi tersebut adalah teleskop yang sudah dilengkapi otomatisasi komputer sehingga dapat langsung mengarah ke Bulan.