LANGIT7.ID - , Jakarta - Pemerintah menggelar sidang isbat (penetapan) awal Ramadhan untuk menentukan kapan ibadah puasa dimulai. Seiring perkembangan zaman, para perukyat hilal sudah memiliki teknologi modern guna penentuan awal Bulan Suci tersebut.
Ahli astronomi dan astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, mengatakan, teknologi tersebut adalah teleskop yang sudah dilengkapi otomatisasi komputer sehingga dapat langsung mengarah ke Bulan.
Baca juga: BMKG: Potensi Hilal Awal Ramadan 1 April Kecil Teramati"Saat belum ada teknologi optik, yang bisa dilakukan hanya mengarahkan agar pengamat fokus melihat ke arah tertentu tapi itu hanya alat untuk fokus. Lalu teknologi teleskop berkembang sehingga bisa membantu apakah cahaya yang dilihat benar hilal atau bukan," ujarnya, dalam siaran di akun Instagram @pussainsa_lapan, dikutip Langit7.id, Kamis (24/3/2022).
Meski sudah dilengkapi teleskop berteknologi canggih, ada kesulitan yang masih dialami oleh perukyat.
"Karena fungsi teleskop adalah mengumpulkan cahaya, pengamatan hilal terkadang bisa terganggu oleh banyaknya cahaya masuk yang dikumpulkan teleskop," kata Djamal.
Djamal menuturkan, cahaya hilal sangat tipis sehingga sering terganggu oleh cahaya senja.
"Hilal sulit diamati. Dengan teleskop memang cahaya hilal diperkuat, tetapi cahaya senjanya juga diperjelas," ucapnya.
Oleh karena itu, perukyat menggunakan kamera digital supaya citranya bisa diolah dengan perangkat lunak astronomi sehingga kontras cahaya hilal bisa ditingkatkan.
"Kamera digital bisa merekam banyak gambar. Menggunakan
software processing image, gambar ditumpuk untuk bisa menampakkan hilalnya dengan mengatur kontras," kata Djamal.
Baca juga: Bukan Cuma Hilal, Begini Cara Tentukan Awal Ramadhan dengan HisabPenentuan hilal juga disepakati dengan parameter tinggi Bulan minimal 2 derajat, atau beda tinggi Bulan-Matahari minimal 4 derajat (sama dengan tinggi Bulan 3 derajat) dan elongasi Bulan minimal 6,4 derajat di kawasan barat Asia Tenggara.
(est)