Penghapusan kebiasaan minum khamar di Madinah memperlihatkan ketajaman ijtihad Umar bin Khattab. Melalui kegelisahan sosialnya, nalar fikih sang sahabat mendorong lahirnya legislasi hukum Islam secara bertahap.
Adam suka meminum arak tatkala tinggal di surga. Apabila dia meminumnya, maka dia mendapat kebahagiaan yang bertambah. Barang siapa meminum arak dunia, maka dia tidak akan bisa meminum arak dari surga.
Islam dengan gigih memberantas arak dan menjauhkan umat Islam dari arak, serta dibuatnya suatu pagar antara umat Islam dan arak itu. Tidak ada satu pun pintu yang terbuka, betapa pun sempitnya pintu itu, buat meraihnya.
Berdasar sunnah Nabi, orang Islam diharuskan meninggalkan tempat orang berkumpul dan nongkrong sembari minum minuman keras atau arak, kendati dirinya tidak ikut minum.
Minum arak adalah haram menurut Islam. Tak sampai di situ, Rasulullah juga mengharamkan memperdagangkan barang yang bikin orang mabuk itu, sekalipun dengan orang di luar Islam.
Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad SAW tentang masalah arak, yaitu beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan.
Banyak yang belum mengetahui sejumlah istilah-istilah tertentu ternyata berpotensi mengandung khamar. Diketahui khamar merupakan minuman keras beralkohol yang dilarang dalam Islam.