Alissa Wahid mengatakan kehilangan orang tua pada kondisi pandemi Covid-19 merupakan stressor atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam dan bahaya besar bagi anak. Maka perlu adanya pendampingan berbagai pihak.
Perlindungan yang diajarkan dalam Islam adalah perlindungan material, kasih sayang, perlindungan subtansial dan perlindungan spiritual bagi anak-anak yatim
Komunitas Sayangi Sesama di Tabalong Kalsel menyemarakkan Muharram dengan menargetkan berbagi ke 1.000 yatim dan dhuafa. Mereka juga berbagi ke jamaah masjid.
Warga di Kelurahan Rawa Terate, Cakung, membuat komunitas untuk merutinkan sedekah. Target mereka salah satunya menyantuni anak-anak yatim setiap bulannya.
Pandemi Covid-19 membuat banyak anak menjadi yatim dan piatu sebab mereka terpaksa kehilangan orang tuanya. Menurut data Kementerian Sosial RI, per Juli 2021 ada 11.045 anak di Indonesia menjadi yatim piatu. Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta, Nur Rofiah, mengatakan, anak yatim akibat pandemi Covid-19 butuh pendampingan psikologis
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung segala upaya untuk membantu anak yatim akibat pandemi Covid-19.
Pandemi Covid-19 membuat banyak anak-anak kehilangan orang tua. Meski hal tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah, namun PWNU Jatim merasa terpanggil untuk membantu.
Rumah Zakat menyantuni 44.092 anak yatim dan dhuafa dari keluarga terdampak Covid-19. Universitas Muhammadiyah Surabaya juga memberikan beasiswa kepada mereka.
Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) menyediakan beasiswa untuk anak yatim, piatu dan yatim piatu yang kehilangan orang tuanya karena terpapar Covid-19.
Pada beberapa kasus, anak harus menghadapi ibu dan orang tuanya meninggal dalam jarak hanya beberapa hari hingga satu pekan. Salah satunya menimpa empat orang anak di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) pada akhir Juli 2021.