Presiden Prabowo Subianto mengungkap paradoks Indonesia dalam bukunya. Meski kaya sumber daya, kemiskinan masih meluas. Prabowo membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok dan Singapura, mengkritisi penerapan pasal 33 UUD 1945. Ia menyoroti dominasi oligarki dan pentingnya BUMN sebagai ujung tombak ekonomi, merujuk pada keberhasilan model Tiongkok.
Bank Dunia menggagalkan mimpi Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi 2045. Tantangan berat menanti, termasuk populasi menua dan utang meningkat. Rekomendasi 3i - investasi, infusi teknologi, inovasi - diperlukan. Reformasi BUMN dan efisiensi pasar jadi kunci. Pemerintah fokus industrialisasi dan manufaktur bernilai tinggi untuk capai pertumbuhan ambisius.
UMKM, pilar ekonomi Indonesia, butuh dorongan naik kelas dan formalisasi. BRI luncurkan program Desa BRILiaN, bina 3.600 desa. Fokus utama: tingkatkan kontribusi UMKM ke PDB dan penerimaan pajak. Formalisasi UMKM kunci peningkatan tax ratio, perbaikan database, dan pemberdayaan terstruktur. Langkah strategis demi pemerataan ekonomi dan kesejahteraan nasional.
Rupiah menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global, bertahan di level Rp15.335 per dolar AS. Keputusan BI memangkas suku bunga acuan menjadi 6% bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi. Investor menanti keputusan The Fed, sementara fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan surplus neraca dagang berkelanjutan.
Stabilitas politik Indonesia pasca pembatalan revisi UU Pilkada 2024 memberikan angin segar bagi rupiah. Penguatan mata uang ini mencerminkan pulihnya kepercayaan investor. Sementara itu, pasar global masih menanti sinyal Fed terkait suku bunga. Dengan proyeksi rupiah menguat, pekan depan menjadi momentum menarik bagi pelaku pasar untuk mengamati pergerakan ekonomi dalam dan luar negeri.
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menjabarkan syarat Indonesia bisa bergerak ke puncak kepemimpinan dunia jika persatuan dan kesatuan di atas perbedaa bisa dijaga.
Indonesia disebut bisa melewati masa resesi ekonomi. Alasannya karena berada di kawasan Asean dan bertetangga dengan negara-negara yang penuh kedamaian.
Dia menuturkan bahwa masyarakat jangan mudah percaya dengan janji manis para calon pejabat. Namun yang menjadi tolok ukur ialah berani jujur dan melaksanakan amanatnya.
Dahlan Iskan, mengkritik narasi Partai Gelora yang menyebut Indonesia bisa menjadi negara nomor 5 terbesar di dunia. Menurutnya, pernyataan itu hanya narasi untuk menarik simpati yang belum disertai desain jelas untuk mencapai target besar tersebut.
Lonjakan inflasi yang terjadi di AS menaikkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, dari sebelumnya 75 basis poin menjadi 100 basis poin.
Indonesia akan kehilangan angka kesejahteraan masyarakat sebesar 72 juta dolar AS karena konflik ini, berdasarkan hitungan Global Trade Analysis Project (GTAP).