Kalangan lain percaya bahwa kisah ini mengacu pada empat teknik yang dimiliki oleh tarekat-tarekat Darwis Timur utama dan gabungan mereka di bawah Naqshbandi di India dan Khorasan.
Nasihat 'lapis pertama' kisah ini adalah bahwa ketika manusia diberi sesuatu yang bernilai besar bagi masa depannya, ia tidak mempergunakannya dengan cukup baik.
Sebagai akibat kemunculan Faruqi dan penerimaannya oleh semua kepala kaum pada masanya, Kaum Naqshbandi kini meresmikan pengikut-pengikutnya menjadi empat aliran utama dalam Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshbandi.
Shaikh-Pir Shattari dipercaya mampu melakukan hubungan telepati dengan para guru 'masa lampau, masa kini, dan masa depan', dan memberi mereka cara-cara untuk menerangkan pesan.
'Dimensi tersembunyi' dalam kehidupan, lewat pengetahuan yang seorang Guru Sufi anjurkan agar dikembangkan oleh para pengikutnya alih-alih memuaskan keinginan-keinginan sering kali dengan mengekang mereka digambarkan dengan jelas dalam kisah ini.
Kisah ini dituturkan lagi dan lagi pada Abad Pertengahan sebagai sebuah cerita Kristiani oleh para biarawan yang mempergunakan Gesta Romanorum sebagai sumber inspirasi untuk meningkatkan 'ketekunan'.
Kisah ini, yang dikaitkan juga pada banyak syeh Sufi lainnya, menggambarkan konsep tentang jalinan antara keinginan manusia dengan makhluk lain. Khidir merupakan penghubung kedua 'dunia' ini
Dalam Musyawarah Burung (Parliament of Birds), Attar membicarakan kesalahpahaman emosi subjektif yang menyebabkan orang percaya bahwa pengalaman tertentu merupakan hadiah istimewa.
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan tercatat juga dalam Kelakuan Para Ahli (Acts of Adepts), karya Aflaki. Kisah tentang kaum Mevlevi dan kebiasaan kelakuan mereka ditulis pada abad keempat belas.
Pengarang kisah ini, kisah yang sangat disukai di Timur Tengah, adalah Sufi Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok yang meninggal pada awal abad kesembilan.
Kisah ini dianggap mengandung 'baraka' berkah bagi penutur maupun pendengarnya, dan oleh karena itu digemari di negeri-negeri Balkan dan Timur Dekat. Banyak kisah-kisah Sufi yang tersamar sebagai cerita dongeng.
Terdapat dalam suatu naskah darwis yang disebut Kitab-i-Amu Daria (Kitab Sungai Oxus), sebuah sumber yang memasukkan kisah ini sebagai salah satu kisah ajaran Uwais Al-Qarni, pendiri Kaum Darwis Uwaisi ('Menyepi').
Mereka yang percaya bahwa kemajuan spiritual semata-mata tergantung pada penguasaan hal-hal pahala dan siksa, sering kali dikejutkan oleh kisah Sufi tentang Yesus ini.