Kisah ini, yang berasal dari Sufi Abdul Qadir Al Jilani (1077-1166), juga dianggap terilhami dari kehidupan Hasid Rabbi Elimelech (yang meninggal pada tahun 1809).
Mereka yang belum luas pengetahuannya sering beranggapan bahwa sistem metafisika menolak nilai benda 'duniawi' atau, sebaliknya, menjanjikan keuntungan kebendaan yang melimpah.
Ada seorang bernama Saifulmuluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya.
Tak seperti kebanyakan alegori Sufi, kisah ini tak berbentuk sajak. Selain itu, tak seperti kebanyakan pula, kecuali cerita tentang Mulla Nasrudin, kisah ini kadang-kadang dimainkan di Chaikhanas (kedai teh) sebagai drama.
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dianggap mempunyai kemampuan 'penglihatan' sejak kanak-kanak, belajar di Baghdad dan mempergunakan banyak waktunya untuk mencoba mengembangkan pendidikan gratis bagi khalayak.
Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup.
Kisah ini, yang oleh beberapa orang dianggap merujuk pada tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam, muncul dalam bentuk yang agak berbeda dalam karya-karya Boccacio, Gesta Romanorum dan Decamerun.
Dalam menilai kesan yang tampak, kau mengaitkan kesalahan dengan hal yang menentukan bentuk. Berhati-hatilah tentang hal ini! Jangan menganggap wajahku yang buruk sebagai suatu kesalahan.
Dalam kisah ini, Raja yang Menang adalah perwujudan 'fungsi akal yang lebih tinggi', yang disebut Rumi 'Roh Manusia', yang harus manusia kembangkan sebelum ia bisa berfungsi dalam keadaan tercerahkan.
Orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur. Maka Abu Yazid menganjurkan muridnya berlatih menjadi orang hina agar ego dan keinginan untuk menonjol dan dihormati segera hilang.
Kisah ini menggarisbawahi secara dramatis perbedaan antara apa yang calon murid pikirkan tentang hubungan yang seharusnya dengan sang guru dan seperti apa pada kenyataannya.
Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi.
Kisah ini diterbitkan oleh seorang Fransiskan, Roger Bacon yang suka mengutip filsafat Sufi dan mengajar di Oxford, dan oleh karena itu ia kemudian dipecat atas perintah Paus dan Boerhaave, ahli kimia abad ketujuh belas.