Kelompok pertama mencerminkan orang-orang beriman yang sama sekali menjauhkan diri dari dunia, dan kelompok yang terakhir adalah kelompok orang kafir yang hanya mengurusi dunia.
Dunia ini adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi oleh para musafir di tengah perjalannya ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan untuk perjalanan itu.
Di dalam kerajaan manusia, singgasana Allah dicerminkan oleh roh, malaikat (Jibril) oleh hati, kursy oleh otak dan lauhul-mahfuzh oleh ruang-gudang pikiran.
Imam al-Ghazali mengatakan semua nafsu badani musnah pada saat kematian, bersamaan dengan kematian organ-organ yang biasa digunakan oleh nafsu-nafsu tersebut. Tetapi jiwa tidak.
Bukan hanya dengan nalar pengetahuan capaian dan intuisi saja jiwa manusia bisa menempati tingkatan paling utama di antara makhluk-makhluk lain, tetapi juga dengan nalar kekuatan.
Penanaman kualitas-kualitas setan, hewan, ataupun malaikat akan menghasilkan watak-watak yang sesuai dengan kualitas tersebut, yang di Hari Perhitungan akan diwujudkan dalam bentuk kasatmata.
Imam al-Ghazali mengatakan pengetahuan tentang diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan. Hadits menyatakan, Dia yang mengetahui dirinya sendiri, akan mengetahui Tuhan.
Menurut Syaikh, jenis manusia pertama adalah mereka yang tidak berhati dan tidak berlidah. Mereka adalah orang-orang bodoh dan hina, yang tidak pernah mengingat Allah.
Komaruddin HIdayat mengatakan secara garis besar, tahapan seorang mukmin dalam meningkatkan kualitas jiwanya terdiri atas tiga maqam atau jenjang spiritual.
Dari tempat yang jauh, ia datang untuk menemuinya. Namun, ketika telah dekat, Abu Yazid menyaksikan sang guru yang termasyhur itu meludah ke arah Kota Makkah.
Kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat.