Ia menutup ceritanya dengan pelan, Jagalah hatimu untuk selalu peduli. Dan jagalah penilaianmu agar tidak menilai dari rupa. Karena Allah melihat pada hati, bukan pada wajah dan kata.
Humor menjadi cara Nasrudin untuk bertahan hidup dan menundukkan kesewenang-wenangan, bukan dengan perlawanan frontal, tapi dengan akal dan kelucuan yang mencairkan ketegangan.
Banyak orang membuka lembaran demi lembaran kitab suci, kitab ilmu, kitab sejarah tapi tak mengizinkan satu kalimat pun benar-benar masuk ke dalam kalbunya.
Kisah ini bukan hanya menunjukkan kecerdasan Nasrudin dalam menanggapi tirani, tapi juga memperlihatkan bagaimana para sufi dan ulama kadang harus memilih bahasa hikmah untuk menghadapi kekuasaan zalim.
Pada zaman Bani Israil, Allah menghendaki untuk menguji tiga orang yang mengalami kondisi sulit: seorang pengidap kusta, seorang laki-laki botak, dan seorang tuna netra.
Suatu hari, salah satunya menjual sebidang tanah kepada yang lain. Tidak lama setelahnya, sang pembeli menggali tanah itu dan menemukan sebuah guci tua yang ternyata berisi emas.
Menurut sebuah naskah Sufi, Sultan Saladin bertemu guru agung Ahmad Al-Rifai, pendiri Tarekat Rifaiyyah, 'Kaum Darwis yang Menangis', dan mengajukan beberapa pertanyaan.
Dikabarkan bahwa dia menghafal hadis itu dari Rasulullah SAW sehingga dia mengabarkan bahwa dirinya menghafal dari Rasulullah SAW ungkapannya, dan sepuluh kali dari semua itu akan menyertainya'.
Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup.
Abdullah yang dijuluki Dzil Bijadain merupakan orang terpandang di kalangan kabilahnya. Ketika ia syahid, Rasulullah SAW ikut menguburnya. Lalu, siapa tokoh istimewa ini?
Keluarga Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah bin Rasulullah SAW seba kekurangan. Kendati demikian, pasangan ini sangat dermawan. Uang yang ia miliki akan segera disedekahkan kepada orang yang memintanya.