Kisah antara Musa dan seorang hamba istimewa dalam Al-Quran memuat pelajaran yang tak terjangkau akal biasa. Hingga kini, ia tetap jadi teka-teki yang memikat.
Sebuah kisah yang tak hanya memuat fragmen spiritual, tetapi juga kritik terhadap kekuasaanyang apabila tak disertai hikmah dan kehati-hatian, bisa melukai keadilan yang diamanahkan Tuhan.
Dari langit, seekor burung menyaksikan takhta mewah yang diduduki seorang ratu. Tapi matanya menangkap lebih dari kemegahan. Ia melihat sujud, bukan kepada Tuhan, melainkan matahari. Nabi Sulaiman pun turun tangan.
Ketika melihat Ismail memukul adiknya, Sarah bersumpah tidak ingin tinggal bersama Hajar dan anaknya. Ibrahim pun membawa Hajar dan Ismail ke selatan, ke sebuah lembah sunyilokasi Makkah sekarang.
Setelah Lamik menggaulinya, Fainusah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yasykur. Menurut riwayat lain, anak itu diberi nama Abdul Ghaffar. Itulah Nabi Nuh as.
Adam juga menangis selama 40 tahun karena menyesali terjadinya pembunuhan putranya. Jika tangisan Adam itu dilakukan secara terpisah maka bisa dihitung bahwa Nabi Adam menangis sepanjang hidupnya selama 180 tahun.
Penduduk Damaskus menyebut tempat ini dengan Syahqatul Jabal (teriakan gunung). Di wilayah ini diyakini menjadi tempat makam sejumlah nabi, termasuk Nabi Adam as.
Selama 300 tahun Adam memanjatkan doa tanpa henti demi memohon ampunan. Ya Allah, ampunilah kami, demi menjunjung tinggi cahaya Muhammad yang kami tanggungkan.
Mengapa ketika Hawa telah memakan buah pohon itu pakaiannya tidak terlepas saat itu juga, sementara ketika Adam memakannya, seketika itu juga pakaiannya terlepas?
Mengapa Allah membinasakan musuh-musuh para nabi, tetapi Dia membiarkan Iblis, musuh Adam, tetap hidup? Rasulullah SAW bersabda, Seandainya Allah menghendaki untuk tidak dimaksiati, tentu Dia tidak menciptakan Iblis.
Setelah Namrudz dan para pembantunya sepakat untuk membakar Ibrahim as, dia memerintahkan untuk mengumpulkan kayu-kayu bakar dari gunung dengan diangkut oleh bagal.