LANGIT7.ID- Di antara banyak kisah yang berembus dari lorong-lorong tradisi keislaman, salah satu yang terus menggema adalah penyesalan
Nabi Daud. Setiap tanggal
10 Muharram, kisah ini kembali dibaca, direnungi, dan dijadikan cermin oleh banyak umat. Sebuah kisah yang tak hanya memuat fragmen spiritual, tetapi juga kritik terhadap kekuasaan—yang apabila tak disertai hikmah dan kehati-hatian, bisa melukai keadilan yang diamanahkan Tuhan.
Nabi Daud bukan hanya seorang nabi. Ia juga raja. Dan seperti kebanyakan penguasa, kekuasaan tak jarang membisikkan rasa berhak—berhak atas apa pun yang diinginkan, bahkan bila itu telah menjadi milik orang lain. Dalam banyak riwayat klasik, disebutkan bahwa suatu ketika, Nabi Daud menginginkan istri seorang petani. Padahal, ia telah memiliki 99 istri. Sang petani tak kuasa menolak kehendak sang raja. Namun hatinya remuk.
Di sinilah kisah itu menjelma ujian. Dua lelaki berselisih datang menghadap. Salah satunya memiliki 99 domba, dan meminta domba satu-satunya milik saudaranya. Daud spontan memutuskan: yang 99 itu telah berlaku zalim. Tapi sejurus kemudian, ia tersentak. Dua lelaki itu bukan sembarang manusia. Mereka adalah malaikat. Ia tak sedang mengadili perselisihan biasa. Ia sedang menatap cermin atas dirinya sendiri.
Baca juga: Kisah Nabi Adam Menghibahkan 40 Tahun Umurnya kepada Nabi Daud Dalam banyak literatur tafsir, seperti disebut dalam "
Mengungkap Rahasia Shalat" karya Syamsuddin Noor dan dikutip dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazi, Nabi Daud pun tersungkur dalam sujud selama 40 hari 40 malam. Tak makan. Tak minum. Hanya tangis, sujud, dan pengakuan bersalah di hadapan Tuhan. Dalam versi lain, seperti riwayat dari Muhammad bin Nashr al-Maruzi, disebutkan bahwa air mata Daud mengering, lututnya memar karena lamanya bersujud, dan sujudnya tak terputus kecuali untuk kebutuhan yang paling mendesak.
Kisah ini lalu bergulir menjadi tafsir atas ayat-ayat dari surat Shaad. Ayat 26 berbunyi, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena hawa nafsu itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” Sebuah peringatan bagi siapa saja yang diberi kuasa: bahwa keadilan tak boleh dicemari oleh keinginan pribadi, betapapun halus atau manusiawinya godaan itu.
Namun, seperti biasa dalam dunia tafsir, tak semua ulama sepakat pada satu garis narasi.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam bukunya
At-Taubah Ilallah, menolak mentah-mentah versi yang menyebut Nabi Daud terpikat istri tetangganya dan meminta cerai dari sang suami. Menurutnya, kisah tersebut hanyalah Israiliyat—cerita yang disusupkan dari tradisi Yahudi yang gemar menampilkan para nabi dalam gambaran buruk.
Baca juga: Viral! Doa Ampuh AA Gym: Amalan Nabi Daud Ini Dijamin Buka Pintu Rezeki Qardhawi menggarisbawahi bahwa kesalahan Daud bukan pada godaan perempuan, tetapi pada sikapnya sebagai hakim yang terlalu cepat mengambil keputusan, hanya mendengar satu pihak dalam perselisihan. Di sinilah pelajarannya. Seorang pemimpin, apalagi nabi, tidak boleh menjatuhkan vonis sebelum mendengar semua pihak. Sebuah ajaran etis yang tetap relevan dalam sistem peradilan modern sekalipun.
Maka, kisah ini bisa dibaca dari dua sudut. Yang pertama adalah narasi moral klasik tentang bagaimana kekuasaan bisa menggoda bahkan seorang nabi, dan bahwa pertobatan sejati hanya datang setelah pengakuan atas kesalahan yang besar. Sudut yang kedua, yang lebih rasionalis, menolak gambaran buruk terhadap para nabi, dan menempatkan Daud sebagai sosok bijak yang tengah diuji dalam tugas kenabian dan kehakiman.
Apapun posisi pembaca, Muharram datang bukan hanya sebagai angka dalam kalender hijriah. Ia adalah panggilan untuk menunduk, merenung, dan bertanya: apakah kita hari ini menjatuhkan keputusan dengan hawa nafsu atau keadilan? Apakah kita masih memiliki ruang untuk sujud yang jujur, yang tumbuh dari rasa takut telah menyakiti sesama manusia?
Dalam perenungan panjang yang membentang sejak istana Daud hingga ruang-ruang sidang pengadilan hari ini, pertanyaan itu tetap menggema. Sebab keadilan, seperti juga kekuasaan, selalu menunggu untuk ditegakkan. Kadang dari tahta. Tapi lebih sering, dari dalam diri.
Baca juga: Healing ala Nabi Daud AS, Low Budget dan Asyik Dijalani(mif)