LANGIT7.ID, Jakarta - Gagasan dan pemikiran para tokoh bangsa Indonesia terkumpul dalam risalah dan notulensi sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaa Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Beberapa tokoh tersebut di antaranya Soekarno, Muhammad Yamin, Soepomo, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Radjiman dan tokoh lainnya yang memiliki peran penting. Ibarat Kitab Suci Republik Indonesia berisi naskah penting bagi sejarah berdirinya bangsa Indonesia.
Untuk mengetahui seluk beluk pendirian negara Indonesia, Komunitas Salihara akan mengadakan program Membaca Kitab yang "Hilang": Risalah BPUPKI untuk mengajak masyarakat aktif membaca risalah, dan notulensi dari naskah BPUPKI yang terbagi pada 25 sesi.
Baca juga: Rahasia di Balik Lukisan Indah SBY, Bak Profesional meski Baru Mulai MelukisTak hanya itu, dalam program ini para peserta dapat memilih tokoh-tokoh bangsa yang ingin mereka perankan, mulai dari Soekarno, Muhammad yamin, Soeroso, Oto Iskandarnata, dan lainnya.
Kurator Sastra Komunitas Salihara, Ayu Utami menjelaskan kegiatan membaca BPUPKI penting dilakukan karena dengan risalah dan notulensi tersebut, para peserta bisa melihat berbagai perdebatan pata pendiri bangsa.
Menurut dia, hal tersebut mengenai bentuk, dasar, wilayah, dan ideologi negara serta kedudukan warga negara Indonesia sebelum akhirnya lahirlah Indonesia yang saat ini dikenal.
“Ini adalah naskah yang penting tetapi naskah ini tidak pernah dibaca secara umum. Kita bisa melihat dinamika di antara peserta sidang yang sangat manusiawi. Intinya kami ingin mengajak orang untuk membaca 'kitab suci' bangsa Indonesia," ujar Ayu dalam keterangan yang diterima Langit7.
Baca juga: Pertunjukan Wayang Motekar jadi Penutup Musim Seni SaliharaAyu menjelaskan, acara ini akan rutin dilaksanakan mulai 4 Oktober hingga 22 Desember 2022 setiap Selasa dan Kamis pukul 19:00 WIB via Zoom Salihara. Dan peserta bisa melihat informasi lebih lengkap di laman https://salihara.org/membaca-kitab-yang-hilang-risalah-bpupki/.
"Peserta dipersilakan untuk memilih peran yang tersedia di setiap sesinya mulai dari tokoh-tokoh bangsa, narator, atau ingin hadir sebagai pendengar saja. Untuk bisa mengetahui jadwal sesi, peserta bisa melihat di laman kami," katanya.
Tidak hanya membaca, peserta juga bisa berdiskusi bersama membicarakan hasil pembacaan terkait temuan-temuan baru yang didapat setelah sesi pembacaan berakhir. Di mana acara ini juga didukung oleh Teater Ghanta sebagai kolaborator.
(sof)