LANGIT7.ID - , Jakarta - Jumlah hari dalam satu tahun mungkin dianggap sesuatu yang biasa saja. Namun siapa sangka, penghitungan
astronomi ini ditemukan oleh
sosok muslim pada abad pertengahan.
Ia adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Al-Battani Al-Harrani, atau Al-Battani yang juga dikenal sebagai Albategnius di Eropa.
Melansir About Islam, Senin (24/10/2022), Al-Battani merupakan seseorang yang lahir pada 858 M di Battan, negara bagian Harran. Ia dibesarkan dan dididik oleh ayahnya, Jabir Ibn San'an Al-Battani, yang juga seorang
ilmuwan terkenal.
Baca juga: Bintang Sepak Bola Muslim Nigeria Bangun Sekolah untuk Warga MiskinSetelah beranjak dewasa, Al-Battani kemudian pindah ke Ar-Raqqa, yang terletak di tepi sungai Efrat di
Suriah. Di sana, Al-Battani menerima pendidikan lanjutan dan memulai karirnya sebagai seorang sarjana.
Al Battani tumbuh sebagai pengamat terkenal dan pemimpin di bidang geometri, astronomi teoretis dan praktis, serta ahli astrologi. Ia menyusun sebuah karya astronomi dengan tabel berisi pengamatannya tentang
matahari dan
bulan.
Pengamatan tersebut dideskripsikan dengan akurat terkait gerakan matahari dan bulan. Al Battani berhasil menjelaskan gerakan lima planet serta perhitungan astronomi lainnya dengan pengamatan lebih baik.
Ia memiliki karya yang sangat populer, yaitu Kitab al Jiz, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Buku tersebut banyak dikutip para astronom, termasuk Copernicus.
Buku tersebut berisi katalog 489 bintang yang menyempurnakan nilai panjang tahun matahari atau 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 24 detik dalam satu hari. Al-Battani menghitung 54,5 inci per tahun untuk persisi ekuinoks dan memperoleh nilai 23,35 untuk kemiringan ekliptika.
Baca juga: Prof Sardjito: Pejuang Ilmuan Bidang Pendidikan dan Kesehatan Asal MagetanDalam penemuan ini, alih-alih menggunakan metode geometris seperti Ptolemy, Al-Battani justru memakai metode trigonometri, yang merupakan kemajuan penting. Ia memberikan rumus trigonometri penting untuk segitiga siku-siku seperti: b sin(A) = a sin(90-A).
Sebagai informasi, Ptolemy juga merupakan ahli matematika, astronomi, dan geografi, yang tinggal kota Alexandria, sebuah wilayah di Mesir yang dikuasai kerajaan Romawi pada masa itu.
Al-Battani menunjukkan jarak terjauh matahari dari bumi yang bervariasi. Ini yang mengakibatkan berbagai fenomena
gerhana matahari.
Pengaruh Ptolemy pada semua astronom abad pertengahan sangat kuat. Hal tersebut membuat para astronom ternama, termasuk Al-Battani tidak berani mengklaim nilai jarak bumi dan matahari berbeda dari yang diberikan oleh Ptolemy. Namun, Al-Battani menyimpulkan nilai dari pengamatannya sendiri sangat berbeda dari Ptolemy.
Meski demikian, penemuan-penemuan asli Al-Battani dalam astronomi dan trigonometri memiliki konsekuensi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Al-Battani memiliki pengaruh besar pada ilmuwan seperti Tyco Brahe, Kepler, Galileo dan Copernicus. Al-Battani menghasilkan pengukuran lebih akurat gerakan matahari daripada Copernicus.
Baca juga: Sosok Jusuf Hamka, Bos Jalan Tol yang Pilih Hidup SederhanaPengaruh besar Al-Battani dalam matematika adalah penggunaan rasio trigonometri seperti yang kita gunakan saat ini. Ia orang pertama yang mengganti penggunaan akord Yunani dengan sinus. Al-Battani juga mengembangkan konsep kotangen.
(est)