LANGIT7.ID, Jakarta -
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan merupakan pesantren modern terbesar di Madura. Pesantren yang didirikan KH Achmad Djauhari Chotib pada 10 November 1952 itu dirintis dari Langgar kecil atau Congkop.
Hal itu yang membuat masyarakat lebih mengenal pesantren ini sebagai Pesantren Congkop pada awal pendirian. Bangunan itu berdiri di lahan gersang, labil, dan sempit yang dikelilingi tanah pemakaman dan semak belukar.
Namun sayang, sebelum Congkop menjadi lebih besar, Kiai Chotib meninggal dunia pada 7 Jumadil Akhir 1349 H/2 Agustus 1930 M. Sejak saat itu, Congkop semakin redup karena regenerasi yang lambat. Meski begitu, masih ada kegiatan pengajian yang dibina Nyai Rahmna selama beberapa tahun kemudian.
Baca Juga: 4 Juta Santri Aktif Modal Kuat Dorong Kemandirian Ekonomi PesantrenPembangunan UlangPendidikan Islam kembali menggeliat setelah putra ketujuh Kiai Chotib, Kiai Djauhari, dari Mekkah. Dia tak langsung membuka kembali pesantren tersebut. Dia terlebih dahulu membina masyarakat setempat.
Setelah melakukan pembinaan, Kiai Djauhari lalu membangun madrasah dengan konsep yang lebih teratur dan terorganisir bernama Mathlabul Ulum. Madrasah ini turut serta melawan penjajahan Belanda, bahkan Kiai Djauhari sempat mendekam di tahanan penjajah.
Hingga 1949, Mathlabul Ulum semakin berkembang pesat. Banyak santri berdatangan. Masyarakat sangat antusias, sehingga perlu pembukaan cabang di desa sekitar. Ada lima cabang madrasah yang dipimpin tokoh masyarakat.
Baca Juga: Pendaftaran Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren Dibuka Februari 2023Kiai Djauhari juga mendirikan Tarbiyatul Banat, khusus untuk kaum wanita. Selain membina madrasah, dia juga mempersiapkan kader-kader. Ada sekitar 20 pemuda-pemudi Prenduan yang dididik secara khusus.
Hingga pada 1950-an, Mathlabul Ulum dan Tarbiyatul Banat mencapai masa keemasan. Hanya saja, kondisi umat Islam kala itu diterpa badai politik dan perpecahan yang berdampak pada pesantren itu. Pimpinan, guru, dan murid-murid
Mathlabul Ulum terpecah belah.
Periode Pengembangan Menjelang akhir 1951, Kiai Djauhari membangun kembali Congkop Baru. Itu karena prihatin atas nasib Mathlabul Ulum yang terpecah. Langkah pertama, dia membangun langgar dan mushalla sebagai pusat kegiatan santri dan para
Ikhwan Tidjaniyyin.Baca Juga: Sayyid Muhammad Ishom Al-Hasani, Pendiri Pesantren Tertua di IndonesiaHingga satu tahun berlalu, Majlis Tidjani pun berdiri. Pada 10 November 1952, Kiai Djauhari meresmikan sebuah pesantren bernama Pondok Tegal. Pondok inilah yang berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Amien seperti yang dikenal sampai sekarang.
Sepeninggal Kiai Djauhari, pondok tersebut dilanjutkan oleh Moh. Tidjani Djauhari yang baru pulang dari mekkah. Dia mengembangkan pesantren dengan mengadopsi sistem pondok modern ala Pondok Modern Darussalam GontorGontor dengan kurikulum Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah (KMI), tetapi tidak melupakan nilai-nilai tradisi kemaduraan.
Selama periode tersebut sampai sekarang banyak perkembangan yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Mulai dari pengembangan kurikulum pengembangan dan penambahan bangunan.
Baca Juga: Sayyid Muhammad Ishom Al-Hasani, Pendiri Pesantren Tertua di IndonesiaHingga pada 15 Ramadhan 1428 H, KH. Moh. Tidjani Djauhari meninggal dunia. Amanah pengembangan pesantren kemudian diserahkan kepada KH Muhammad Idris Jauhari. Setelah KH Muhammad Idris wafat padda 8 Sya’ban 1433 H/28 Juni 2012, kepemimpin lalu diserahkan kepada KH Maktum Jauhari.
(jqf)