Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 25 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Ponpes Al-Amien Prenduan, Pesantren Modern Terbesar di Madura

Muhajirin Kamis, 09 Februari 2023 - 18:01 WIB
Ponpes Al-Amien Prenduan, Pesantren Modern Terbesar di Madura
Santri Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura (foto: al-amien.ac.id)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan merupakan pesantren modern terbesar di Madura. Pesantren yang didirikan KH Achmad Djauhari Chotib pada 10 November 1952 itu dirintis dari Langgar kecil atau Congkop.

Hal itu yang membuat masyarakat lebih mengenal pesantren ini sebagai Pesantren Congkop pada awal pendirian. Bangunan itu berdiri di lahan gersang, labil, dan sempit yang dikelilingi tanah pemakaman dan semak belukar.

Namun sayang, sebelum Congkop menjadi lebih besar, Kiai Chotib meninggal dunia pada 7 Jumadil Akhir 1349 H/2 Agustus 1930 M. Sejak saat itu, Congkop semakin redup karena regenerasi yang lambat. Meski begitu, masih ada kegiatan pengajian yang dibina Nyai Rahmna selama beberapa tahun kemudian.

Baca Juga: 4 Juta Santri Aktif Modal Kuat Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren

Pembangunan Ulang

Pendidikan Islam kembali menggeliat setelah putra ketujuh Kiai Chotib, Kiai Djauhari, dari Mekkah. Dia tak langsung membuka kembali pesantren tersebut. Dia terlebih dahulu membina masyarakat setempat.

Setelah melakukan pembinaan, Kiai Djauhari lalu membangun madrasah dengan konsep yang lebih teratur dan terorganisir bernama Mathlabul Ulum. Madrasah ini turut serta melawan penjajahan Belanda, bahkan Kiai Djauhari sempat mendekam di tahanan penjajah.

Hingga 1949, Mathlabul Ulum semakin berkembang pesat. Banyak santri berdatangan. Masyarakat sangat antusias, sehingga perlu pembukaan cabang di desa sekitar. Ada lima cabang madrasah yang dipimpin tokoh masyarakat.

Baca Juga: Pendaftaran Bantuan Inkubasi Bisnis Pesantren Dibuka Februari 2023

Kiai Djauhari juga mendirikan Tarbiyatul Banat, khusus untuk kaum wanita. Selain membina madrasah, dia juga mempersiapkan kader-kader. Ada sekitar 20 pemuda-pemudi Prenduan yang dididik secara khusus.

Hingga pada 1950-an, Mathlabul Ulum dan Tarbiyatul Banat mencapai masa keemasan. Hanya saja, kondisi umat Islam kala itu diterpa badai politik dan perpecahan yang berdampak pada pesantren itu. Pimpinan, guru, dan murid-murid Mathlabul Ulum terpecah belah.

Periode Pengembangan

Menjelang akhir 1951, Kiai Djauhari membangun kembali Congkop Baru. Itu karena prihatin atas nasib Mathlabul Ulum yang terpecah. Langkah pertama, dia membangun langgar dan mushalla sebagai pusat kegiatan santri dan para Ikhwan Tidjaniyyin.

Baca Juga: Sayyid Muhammad Ishom Al-Hasani, Pendiri Pesantren Tertua di Indonesia

Hingga satu tahun berlalu, Majlis Tidjani pun berdiri. Pada 10 November 1952, Kiai Djauhari meresmikan sebuah pesantren bernama Pondok Tegal. Pondok inilah yang berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Amien seperti yang dikenal sampai sekarang.

Sepeninggal Kiai Djauhari, pondok tersebut dilanjutkan oleh Moh. Tidjani Djauhari yang baru pulang dari mekkah. Dia mengembangkan pesantren dengan mengadopsi sistem pondok modern ala Pondok Modern Darussalam GontorGontor dengan kurikulum Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah (KMI), tetapi tidak melupakan nilai-nilai tradisi kemaduraan.

Selama periode tersebut sampai sekarang banyak perkembangan yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Mulai dari pengembangan kurikulum pengembangan dan penambahan bangunan.

Baca Juga: Sayyid Muhammad Ishom Al-Hasani, Pendiri Pesantren Tertua di Indonesia

Hingga pada 15 Ramadhan 1428 H, KH. Moh. Tidjani Djauhari meninggal dunia. Amanah pengembangan pesantren kemudian diserahkan kepada KH Muhammad Idris Jauhari. Setelah KH Muhammad Idris wafat padda 8 Sya’ban 1433 H/28 Juni 2012, kepemimpin lalu diserahkan kepada KH Maktum Jauhari.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 25 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:51
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)