LANGIT7.ID-Dari Basrah, seorang
sufi besar mengajarkan bahwa kunci semua keluhan hidup hanya satu: kembali kepada Tuhan.
Basrah, sebuah kota berdebu di tepi Sungai Tigris, menjadi panggung lahirnya salah satu sufi besar yang jejaknya terus dikenang lebih dari seribu tahun kemudian. Ia dikenal dengan nama
Hasan Al-Bashri, ulama tabiin yang menjadi simbol zuhud, kebijaksanaan, dan keberanian moral di awal masa
kekhalifahan Umayyah.
Hasan lahir di Madinah, tahun 21 Hijriah (642 M), dari orang tua yang dekat dengan keluarga Nabi. Ayahnya pernah menjadi pembantu Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu, dan ibunya, Khairoh, adalah pelayan Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah. Pada usia remaja, Hasan pindah ke Basrah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Dari kota inilah, namanya dikenang sebagai Hasan Al-Bashri, Hasan dari Basrah.
Ia belajar langsung dari para sahabat Nabi:
Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas,
Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Umar. Wafat pada Jumat, 5 Rajab 110 H (728 M), di usia 89 tahun, Hasan meninggalkan bukan hanya ilmu, tetapi juga teladan cara hidup yang sederhana, khutbah-khutbah yang menjadi permata sastra Arab, dan satu keyakinan yang tak pernah goyah: dunia hanyalah persinggahan menuju akhirat.
Baca juga: Nasihat Penuh Hikmah Hasan Al-Bashri kepada Penguasa Irak Umar bin Hubairah Semua Keluhan, Satu JawabanCerita paling populer tentang Hasan Al-Bashri mungkin adalah tentang bagaimana ia merespons segala macam persoalan umat dengan satu resep yang sama.
Suatu hari, empat orang datang kepadanya dengan masalah yang berbeda-beda.
Orang pertama mengeluhkan musim paceklik yang panjang. Hasan hanya berkata, “Mohonlah ampun kepada Allah.”
Orang kedua mengadu soal kemiskinan yang mencekik. Hasan menjawab, “Mohonlah ampun kepada Allah.”
Orang ketiga datang mengadukan belum juga punya keturunan. Hasan pun menjawab, “Mohonlah ampun kepada Allah.”
Lalu orang keempat mengeluh kebunnya yang kering. Hasan lagi-lagi berkata, “Mohonlah ampun kepada Allah.”
Seorang muridnya, Al-Rabi bin Al-Sabih, yang menyaksikan itu semua tak kuasa menahan diri dan bertanya, “Wahai Syekh, mengapa semua keluhan itu jawabannya hanya satu: istighfar?”
Hasan tersenyum, lalu menjelaskan: semua itu ia katakan bukan dari pikirannya sendiri, melainkan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, tepatnya Surat Nuh ayat 10–12. Dalam ayat itu Nabi Nuh berkata kepada kaumnya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, menyediakan kebun-kebun dan sungai-sungai bagimu.”
Bagi Hasan, ayat itu bukan hanya nasihat retoris, tetapi sebuah formula hidup yang nyata: istighfar bukan hanya untuk dosa, tetapi juga untuk mendatangkan keberkahan dan menolak bala.
Baca juga: Kisah Tabiin Hasan al-Bashri yang Membuat Penguasa Irak Gagal Membunuhnya Dua Kalimat Kuli AirDi kesempatan lain, Hasan dibuat kagum oleh seorang kuli pengangkut air yang saban hari lewat depan rumahnya. Kuli itu selalu melantunkan dua kalimat sederhana: tahmid (Alhamdulillah) dan istighfar. Hasan bertanya kepadanya, sejak kapan kebiasaan itu ia lakukan.
“Sudah lama,” jawab si kuli.
“Mengapa?”
“Karena kita selalu berada dalam dua keadaan,” jawab si kuli.
“Saat mendapat nikmat, kita bersyukur. Saat lalai atau berbuat salah, kita memohon ampun.”
Hasan penasaran, “Apa hasilnya bagimu?”
Si kuli menjawab, “Hampir semua doa saya dikabulkan. Kecuali satu.”
“Doa apa itu?”
“Bertemu dengan ulama besar yang saya kagumi: Hasan Al-Bashri.”
Hasan terharu, memeluk kuli itu, dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu. Akulah Hasan Al-Bashri.”
Cerita itu beredar luas sebagai contoh nyata kerendahan hati Hasan, sekaligus keyakinannya bahwa siapa pun yang selalu mensyukuri dan memohon ampun akan dimuliakan.
Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Fikih Tabiin? Berikut Ini Penjelasannya Zuhud yang MembumiHasan Al-Bashri tak pernah menganjurkan umat untuk meninggalkan dunia sama sekali. Baginya, dunia memang tempat bercocok tanam untuk akhirat, dan yang harus dikendalikan adalah cinta berlebihan pada dunia yang melupakan Allah. Zuhud menurutnya adalah memakai dunia seperlunya, bekerja secukupnya, dan tidak menyandarkan hati pada apa yang ada di tangan.
Khotbah-khotbahnya yang bernas dan tajam membuat banyak penguasa gelisah, tetapi juga banyak rakyat kecil merasa dikuatkan. Hasan berani menegur kezaliman, tetapi tetap lembut dan santun, sehingga nasihatnya sampai ke hati.
Hingga kini, Hasan Al-Bashri tetap menjadi teladan: seorang sufi yang zuhud namun produktif, sederhana namun berilmu tinggi, dan yang mengajarkan bahwa solusi sejati untuk segala masalah adalah kembali kepada Allah, dengan istighfar, doa, dan syukur.
Dari kota Basrah yang tandus, suaranya terus bergema: untuk setiap kemarau, untuk setiap perut lapar, untuk setiap rahim yang merindukan anak, untuk setiap kebun yang kering, satu pesan yang sama: “Mohonlah ampun kepada Allah.”
Baca juga: Kisah Tabiin Amir bin Syurahabil: Kaisar Romawi Saja Memuji Kecerdasannya(mif)