LANGIT7.ID-Kairo, akhir abad ke-9 H/15 M. Kota itu menjadi jantung dunia Islam: madrasah, masjid, dan pasar berbaur dalam hiruk pikuk peradaban. Di tengah riuh itu, Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyuti (1445–1505 M) tumbuh.
Sejak muda ia dikenal rakus membaca. Kecerdasannya membuatnya cepat menyalip teman sebaya. Menurut sejarawan Carl Brockelmann dalam
Geschichte der Arabischen Litteratur (1937), al-Suyuti menulis lebih dari 500 karya, meski sebagian dianggap ringkasan atau catatan ulang.
“Produktivitasnya luar biasa. Hampir setiap cabang ilmu disentuhnya,” tulis J. Pedersen dalam
Encyclopaedia of Islam (edisi kedua, 1960).
Karya monumentalnya di bidang tafsir adalah
al-Durr al-Mantsur,
tafsir bi al-ma’tsur yang merangkum ribuan riwayat. Dalam hadis, ia menulis
al-Jami’ al-Saghir dan al-Jami’ al-Kabir yang menjadi rujukan ulama lintas mazhab.
Namun Suyuti tak berhenti pada ilmu agama. Ia menulis
al-Rahma fi al-Tibb wa al-Hikma tentang kedokteran, juga karya linguistik al-Itqan fi Ulum al-Qur’an yang sampai kini jadi rujukan utama studi ilmu Al-Qur’an.
“Dia seperti Google di zamannya: serba ada, serba cepat, meski kadang memicu perdebatan soal akurasi,” kata Ahmad al-Khalili, peneliti sejarah Islam Mesir, dalam
jurnal Studia Islamica (2015).
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami Ulama dan KontroversiAka tetapi Suyuti bukan sekadar mesin pengetahuan. Ia juga sosok yang keras kepala. Ia mengklaim sebagai mujaddid (pembaharu) abad ke-10 Hijriah. Klaim itu membuatnya berseteru dengan ulama sezaman, bahkan dengan penguasa Mamluk.
Dalam catatan al-Husn al-Muhadhdhar (hlm. 210), Suyuti pernah dikucilkan dari jabatan pengajar di al-Azhar karena dianggap arogan. Namun ia memilih mundur, menyepi di pulau Rawdha di tepi Nil, dan tetap menulis hingga akhir hayat.
Sejarawan al-Dawudi menyebutnya “alim besar yang dicintai sekaligus dibenci.” (lihat Tabaqat al-Mufassirin, jilid 2).
Baca juga: Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi Jejak di NusantaraWarisan Suyuti menembus jauh ke timur. Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (1994) menunjukkan, karya-karya Suyuti dibawa ke pesantren sejak abad ke-17.
Kitab al-Itqan jadi teks standar tafsir di berbagai pesantren Jawa. al-Durr al-Mantsur dipakai dalam halaqah tafsir di Aceh. Bahkan sebagian fatwanya soal bid’ah masih dikutip NU dan Muhammadiyah ketika menimbang persoalan baru.
“Di pesantren, nama Suyuti selalu hadir. Ia seperti bayangan panjang dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara,” kata Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (1995).
Antara Salafi dan TradisiDi era kontemporer, Suyuti kembali jadi rebutan. Ulama Salafi mengaguminya karena keahliannya dalam hadis. Kalangan tradisionalis NU merujuk pada tafsir dan fatwanya soal tasawuf. Muhammadiyah menempatkannya sebagai simbol integrasi ilmu agama dan rasionalitas.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga kerap menyitir pandangan Suyuti dalam fatwa, terutama yang berkaitan dengan ijtihad dan pembaruan.
Baca juga: Gelombang yang Tak Pernah Padam: Sufisme dan Tantangan Zaman Namun, sebagaimana di zamannya, nama Suyuti tak lepas dari kontroversi. Sebagian kritikus menilai banyak karyanya hanya kompilasi, bukan orisinal. Tetapi bahkan kritik itu sekaligus menegaskan: hanya ulama besar yang bisa memicu perdebatan lintas zaman.
Menutup Abad, Membuka JalanAl-Suyuti wafat pada 1505 M. Di atas nisannya, orang menulis: “Di sini beristirahat ensiklopedia yang hidup.”
Lebih dari lima abad berlalu, warisan Suyuti masih menyala. Bukan sekadar karena tebal-tipis kitabnya, melainkan karena ia menunjukkan satu hal: bahwa ilmu agama Islam bisa elastis, luas, dan terus merespons zaman.
“Dia mungkin kontroversial, tapi justru dari sanalah kita belajar bahwa tradisi Islam selalu bergerak,” tulis Annemarie Schimmel dalam Islamic Literatures (1975).
(mif)