LANGIT7.ID – Di sebuah ruang pameran di Teheran, manuskrip berhuruf Persia dipajang di balik kaca. Bukan sekadar kaligrafi yang indah, melainkan perpaduan tak lazim: rumus matematika bersanding dengan syair, catatan astronomi diselingi renungan tentang hidup. Jejak itu milik Omar Khayyam, ilmuwan yang teliti mengukur langit, sekaligus penyair yang berani menggoda takdir.
Namun, di luar Iran namanya justru lebih akrab lewat Rubáiyát, kumpulan kuatrain yang populer berkat terjemahan Edward FitzGerald pada 1859. Dalam tangan FitzGerald, Khayyam tampil sebagai ikon eksotisme Timur: penyair anggur, hedonisme, dan nasib. Popularitas ini justru menutupi warisan ilmiahnya sebagai ahli aljabar dan astronom ulung.
“Di Barat, ia lebih sering dipahami sebagai simbol dekadensi,” tulis Mehdi Aminrazavi dalam The Wine of Wisdom (2005). Padahal, Khayyam adalah ilmuwan serius dengan kontribusi nyata bagi sejarah matematika dan kalender.
Nama lengkapnya Umar ibn Ibrahim al-Khayyam al-Nishapuri (1048–1131). Ia menulis risalah matematika yang memperbaiki postulat Euclid, mengklasifikasikan persamaan kubik, dan menawarkan solusi geometris menggunakan kurva konik. Kajian modern menyebut pendekatannya sebagai “geometri aljabar”—fondasi penting sebelum aljabar simbolik berkembang.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami Puncak karya ilmiahnya hadir saat Sultan Malik-Shah menugaskannya merancang reformasi kalender. Lahirlah Kalender Jalali (1079) yang terbukti lebih presisi dibanding kalender Julian. Sejarawan sains menilai pencapaian ini monumental. “Kalender itu bertahan berabad-abad dan menjadi bukti disiplin ilmiah Khayyam,” tulis Encyclopaedia Britannica.
Antara mistik dan skeptisismeSisi puitis Khayyam justru penuh perdebatan. Apakah ia seorang sufi yang menyamarkan ajaran mistik lewat simbol anggur, atau skeptikus yang menggugat dogma? Sebagian besar rubāʿiyāt yang beredar diyakini bukan karyanya sendiri, melainkan kumpulan dari penyalin belakangan.
Edward FitzGerald memperkuat citra Khayyam sebagai penyair eksistensialis. Namun filolog modern lebih berhati-hati: suara asli Khayyam sulit dipisahkan dari konstruksi kolonial dan romantik Barat. “Ia adalah tokoh yang diklaim banyak pihak, dari sufi hingga ateis,” catat Stanford Encyclopedia of Philosophy (2011).
Hari ini, makam Khayyam di Nishapur menjadi tujuan wisata budaya. Di Barat, namanya melekat pada klub, musik, hingga ilustrasi seni dekaden. Tetapi warisan ganda itu menyisakan ironi: seorang ilmuwan yang seharusnya dihargai atas karya rasionalnya lebih sering dipuja sebagai ikon kebebasan anggur.
Kritikus kontemporer menyebut fenomena ini sebagai bentuk “orientalisme literer”—di mana Timur dijadikan sumber fantasi eksotis ketimbang pengetahuan.
Baca juga: Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi Mengapa Khayyam penting hari ini? Di satu sisi, ia menegaskan tradisi sains Islam yang rasional, disiplin, dan berakar pada pengamatan empiris. Di sisi lain, puisinya—otentik maupun diperdebatkan—menawarkan ruang refleksi tentang kefanaan, kebebasan, dan pertanyaan abadi tentang makna hidup.
Jika Khayyam menatap dunia kita hari ini—penuh algoritma tetapi miskin perenungan—mungkin ia kembali menulis kuatrain: di antara angka yang pasti dan hidup yang tak pernah pasti.
(mif)