Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Pra-Islam: Gurun yang Dilupakan, Jazirah yang Menyiapkan Sejarah

miftah yusufpati Rabu, 01 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Pra-Islam: Gurun yang Dilupakan, Jazirah yang Menyiapkan Sejarah
Di antara dentum Romawi dan Persia, jazirah Arab seolah sunyi. Gersang tanpa sungai, hanya kafilah dan oasis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di abad keenam, dua raksasa sedang berhadap-hadapan. Romawi di Barat dengan Kristen sebagai panjinya. Persia di Timur dengan Majusi sebagai nafasnya. Dua kekuatan itu saling dorong, saling serang, dan sama-sama haus ekspansi.

Namun, ada satu wilayah yang luput dari sengketa: jazirah Arab. Sebuah semenanjung kering yang panjangnya lebih dari seribu kilometer, nyaris tanpa sungai, penuh padang pasir, hanya sesekali ditaburi oase kecil di celah-celah batu.

Bagi para penguasa dunia, jazirah itu tak lebih dari gurun tandus. Tak ada kerajaan besar. Tak ada kota megah. Tak ada sungai yang bisa menopang pertanian. Yang ada hanyalah kabilah-kabilah badui yang hidup berpindah, menunggang unta, berpacu mencari padang rumput sementara sebelum pindah lagi.

“Daerah seluas itu sebuah sungai pun tak ada,” catat Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (Pustaka Jaya, 1980). Justru tandusnya tanah, jauhnya jarak, dan kerasnya iklim membuat jazirah Arab terlindungi dari penjajahan dua imperium besar.

Baca juga: Cahaya dari Utara: Ketika Salib Mencapai Jazirah Arab Pra-Islam

Raja-raja Sahara

Ketiadaan daya tarik pertanian membuat orang Arab bertahan hidup dari jalur lain: perdagangan. Jalur kafilah yang melintasi semenanjung itu menjadikan mereka “raja sahara”—penguasa padang pasir, sebagaimana pelaut Eropa kelak menjadi raja laut.

Dua jalan kafilah menjadi urat nadi. Jalan Timur, dari Teluk Persia melewati Hira dan Syam. Jalan Barat, membentang sepanjang Laut Merah. Dari situlah barang-barang India dan Cina bertemu dengan barang-barang Mesir dan Romawi.

Heeren, sejarawan Jerman abad ke-19, menggambarkan jalur ini bukan sekadar lintasan dagang. Di oasis-oasis tempat kafilah beristirahat, tumbuh gudang perdagangan sekaligus tempat pemujaan. “Di bawah pohon kurma, di tepi air tawar, pedagang menghilangkan dahaga dan menitipkan barang dagangan pada dewa-dewa,” tulisnya dalam Researches into the Politics, Intercourse, and Trade of the Carthaginians, Ethiopians, and Egyptians (1832).

Keras tapi Mandiri

Kehidupan di jazirah tak mengenal kerajaan terpusat. Ikatan sosial dibangun dari kabilah, keluarga, atau perjanjian jiwar—perlindungan antar-tetangga. Tak ada hukum negara, hanya hukum adat. Tak ada birokrasi, hanya sumpah setia.

Baca juga: Kisah Pra-Islam: Ketika Raja Tubba Batal Menyerang Kakbah, Masuk Agama Yahudi

Edward Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (1776) menyebut kondisi itu sebagai “kemerdekaan purba”—suatu bentuk kebebasan yang liar, tapi justru memupuk karakter keras dan otonom.

Itulah yang membuat jazirah Arab unik: miskin sumber daya, tapi kaya daya tahan. Gersang, tapi sekaligus menjadi simpul perdagangan. Terlupakan dari pusat sejarah, tapi kelak melahirkan revolusi spiritual yang mengubah dunia.

Persimpangan Sejarah

Sementara Romawi sibuk menahan Persia, sementara Kristen sibuk memecah diri ke dalam sekte-sekte, jazirah Arab tetap sunyi. Namun kesunyian itu bukan kehampaan.

Bagi Haekal, dalam ruang kosong itulah sejarah bersiap. “Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh,” tulisnya, “kecuali bila kita melihat letak dan iklim jazirah serta pengaruhnya terhadap kehidupan penduduknya.”

Aneh, karena dari tanah yang tampak mati itu kelak lahir agama yang hidup. Dari kabilah badui yang berpindah-pindah itu kelak tumbuh sebuah ummah yang terorganisasi. Dari oasis-oasis kecil itu kelak lahir kota-kota yang menantang dua imperium besar.

Baca juga: Kisah Penyebaran Agama Yahudi di Arab Pra-Islam: 20.000 Orang Penduduk Yaman Dibakar

Dan dari Makkah yang kala itu hanya persinggahan dagang, lahir seorang nabi yang suaranya menembus gurun, menembus zaman, hingga kini tetap kita dengar.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)