LANGIT7.ID-Dalam kehidupan modern yang serba utilitarian—serba guna, serba fungsi—ajaran Islam justru mengingatkan manusia untuk tidak kehilangan rasa keindahan. Bagi Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama Mesir yang dikenal moderat, Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa ciptaan Allah tidak hanya bermanfaat, tetapi juga indah.
“Apabila jiwa seni itu adalah bagaimana merasakan adanya keindahan dan menghayatinya,” tulis Qardhawi dalam
Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Citra Islami Press, 1997), “maka itulah yang diingatkan oleh Al-Qur’an untuk diperhatikan.”
Ia menukil ayat An-Nahl:5–6 tentang ternak: satu ayat menjelaskan manfaatnya, satu lagi memaparkan keindahan ketika hewan-hewan itu kembali ke kandang. Bagi Qardhawi, dua ayat berurutan itu adalah cermin keseimbangan—antara “fungsi” dan “rasa”, antara “akal” dan “jiwa”.
Dalam An-Nahl:8, Al-Qur’an menyebut kuda, bagal, dan keledai bukan hanya alat transportasi, tapi juga perhiasan. “Menungganginya menghasilkan manfaat, sedangkan keindahannya menjadi kenikmatan tersendiri,” tulis Qardhawi. Begitu pula laut (An-Nahl:14), yang memberi ikan untuk jasad dan mutiara untuk jiwa.
“Allah mengajarkan manusia agar menikmati keindahan tanpa berlebih-lebihan,” tulisnya. Ayat Al-A’raf:31—“makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan”—menjadi pengingat bahwa keindahan tidak boleh menjerumuskan ke kesia-siaan.
Pandangan ini menegaskan dimensi spiritual dari estetika. Bukan hanya tentang bentuk, tetapi juga tentang kesadaran bahwa keindahan adalah tanda kebesaran Tuhan. Dalam bahasa Qardhawi, Zinatullah—hiasan Allah—adalah bukti bahwa seni bukan sekadar ciptaan manusia, melainkan gema dari keindahan ilahi.
Antara Keindahan dan Ketaqwaan “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raf: 26).
Ayat ini, menurut Qardhawi, menunjukkan tiga lapis makna: fungsi, estetika, dan moralitas. Manusia tidak dilarang mencintai keindahan—bahkan dianjurkan—selama diimbangi dengan
libasut-taqwa, pakaian ketakwaan.
Dalam konteks itu, keindahan menjadi jalan menuju kesadaran spiritual, bukan pelarian dari kehidupan rohani. Seperti kata filsuf Islam Ibn Arabi, “Keindahan adalah wajah Allah di dunia ini.”
Qardhawi menolak dua ekstrem: mereka yang menolak seni karena dianggap duniawi, dan mereka yang memuja seni tanpa batas etika. “Islam tidak membunuh rasa estetika,” tulisnya, “tapi menuntunnya agar menjadi ibadah.”
Pemikir modern seperti Seyyed Hossein Nasr dalam
Man and Nature (1976) juga berpandangan serupa: hilangnya rasa keindahan berarti hilangnya keseimbangan antara manusia dan Pencipta. “Krisis ekologi,” tulis Nasr, “berakar dari krisis estetika—ketika manusia berhenti melihat dunia sebagai cermin Tuhan.”
Menghidupkan Kembali Jiwa Estetika Keindahan dalam pandangan Al-Qur’an, demikian Qardhawi menegaskan, adalah kebutuhan jiwa seperti halnya makanan bagi tubuh. Maka, menolak keindahan sama berbahayanya dengan melupakan ibadah.
Dalam dunia yang makin materialistis, pandangan ini terasa relevan. Barangkali sebab itu, Albert Camus pernah menulis, “
Without beauty, we will never know how to resist.” Tanpa keindahan, manusia kehilangan alasan untuk bertahan.
Maka, seperti pesan Al-Qur’an dalam Al-An’am:99—“Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan kematangannya”—barangkali yang diminta Tuhan hanyalah agar manusia berhenti sejenak, memandangi dunia, dan bersyukur.
(mif)