Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 29 April 2026
home masjid detail berita

Tradisi Tadarus Ramadhan: Signifikansi Dialektika Al-Quran antara Nabi dan Jibril

miftah yusufpati Senin, 23 Februari 2026 - 03:58 WIB
Tradisi Tadarus Ramadhan: Signifikansi Dialektika Al-Quran antara Nabi dan Jibril
Tadarus bukan sekadar ritual pengeras suara di menara masjid. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di bawah temaram lampu masjid dan mushala di seluruh penjuru Nusantara, sebuah suara ritmis terdengar bersahutan sepanjang malam Ramadhan. Suara itu adalah tadarus, sebuah aktivitas yang telah menjadi identitas kultural sekaligus spiritual bagi umat Islam. Namun, di balik keramaian suara yang melantunkan ayat-ayat suci tersebut, tersimpan sebuah esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengejar target khatam. Tadarus adalah jembatan sejarah yang menghubungkan manusia modern dengan momen krusial saat wahyu turun dari langit menuju bumi.

Dalam struktur teologi Islam, Ramadhan dan Al-Quran adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Jika Ramadhan adalah wadahnya, maka Al-Quran adalah isinya. Kaitan organik ini menciptakan sebuah anjuran yang sangat ditekankan bagi setiap muslim untuk memperbanyak tilawah atau membaca Al-Quran. Namun, secara teknis dan interpretatif, syariat memberikan panduan spesifik mengenai bagaimana interaksi dengan teks suci tersebut seharusnya dilakukan, yakni melalui metode tadarus.

Tadarus secara harfiah berasal dari akar kata darasa yang berarti mempelajari atau meneliti. Dalam konteks ibadah, tadarus bukan sekadar membaca secara mandiri, melainkan sebuah proses dialektika: satu pihak membaca kepada pihak lain, dan pihak lain membacakannya kembali untuk dikoreksi atau didalami maknanya. Pola ini bukanlah hasil kreasi budaya, melainkan meniru prototipe interaksi antara Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Malaikat Jibril.

Landasan fundamental bagi anjuran ini terekam dalam Shahih Bukhari nomor 6 dan Shahih Muslim nomor 2308. Dalam riwayat tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan aktivitas tahunan sang pembawa risalah:

أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Sesungguhnya Jibril bertemu Nabi shallallahu alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan dan membacakan (Al-Quran) kepadanya.

Para ulama dunia, termasuk Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari, memberikan catatan interpretatif yang sangat tajam mengenai hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa mudarasah atau tadarus yang dilakukan Nabi dan Jibril pada setiap malam Ramadhan bertujuan untuk memperkokoh hafalan, memverifikasi urutan ayat, dan mendalami makna yang terkandung di dalamnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah masa "murajaah" atau peninjauan kembali atas seluruh panduan hidup yang telah diberikan Tuhan.

Kehadiran Jibril setiap malam di bulan Ramadhan menegaskan bahwa waktu malam adalah momen terbaik untuk berinteraksi dengan Al-Quran. Malam menawarkan ketenangan (tumaninah) yang mematikan kebisingan duniawi, sehingga pesan-pesan langit dapat terserap lebih sempurna ke dalam relung kalbu. Imam an-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran menekankan bahwa meskipun membaca Al-Quran dianjurkan secara mutlak di setiap waktu, pada bulan Ramadhan penekanan tersebut berlipat ganda karena nilai kemuliaan waktu yang sedang berjalan.

Secara filosofis, tadarus kolektif yang melibatkan interaksi antara pembaca dan pendengar juga mengandung pesan sosiologis. Ia melatih kerendahhatian untuk mau dikoreksi dan ketelitian dalam menjaga keaslian teks. Di Jakarta pada Februari 2026 ini, di tengah gempuran konten digital yang serba cepat, tadarus menawarkan sebuah oase literasi spiritual yang lambat namun mendalam. Ia memaksa manusia untuk berhenti sejenak, mengeja setiap huruf dengan tajwid yang benar, dan meresapi setiap janji serta peringatan yang tersurat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu al-Fatawa menyebutkan bahwa memperbanyak tilawah di bulan Ramadhan adalah cara terbaik untuk mencuci hati dari karat-karat kelalaian. Al-Quran berfungsi sebagai cahaya yang menerangi kegelapan jiwa, dan Ramadhan menyediakan atmosfer yang paling kondusif bagi cahaya tersebut untuk bersinar.

Dengan demikian, tadarus bukan sekadar ritual pengeras suara di menara masjid. Ia adalah upaya menghidupkan kembali tradisi langit di muka bumi. Setiap muslim yang membuka mushaf dan membacanya bersama saudara seiman, pada hakikatnya sedang mengikuti jejak ketaatan Nabi dan Jibril. Ia sedang menyelaraskan detak jantungnya dengan irama wahyu, memastikan bahwa petunjuk Tuhan tetap menjadi kompas utama dalam menavigasi kehidupan pasca-Ramadhan nanti.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 29 April 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)