Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 05 Juni 2026
home masjid detail berita

Eskatologi Malam Kemuliaan: Makna Turunnya Al-Quran Secara Serentak di Malam Lailatul Qadar

miftah yusufpati Kamis, 05 Maret 2026 - 16:00 WIB
Eskatologi Malam Kemuliaan: Makna Turunnya Al-Quran Secara Serentak di Malam Lailatul Qadar
Keberkahan bukan sekadar urusan pahala matematis, melainkan tentang koneksi antara langit dan bumi yang terbuka lebar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam keheningan malam-malam ganjil di penghujung bulan suci, umat Islam di seluruh dunia terjaga dalam penantian yang khidmat. Fokus mereka bukan sekadar menahan kantuk, melainkan berupaya masuk ke dalam getaran spiritual dari sebuah peristiwa yang pernah mengubah wajah peradaban manusia belasan abad silam. Lailatul Qadar, yang secara harfiah berarti malam kemuliaan, dipahami bukan hanya sebagai durasi waktu, melainkan sebagai wadah dari keberkahan yang paling fenomenal: turunnya kitab suci Al-Quran.

Sebagaimana diurai secara mendalam oleh Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Judai dalam bukunya At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, atau dalam edisi Indonesia bertajuk Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir, kaitan antara Al-Quran dan Lailatul Qadar adalah hubungan yang tak terpisahkan. Allah Tabaaraka wa Ta’ala mengonfirmasi hal ini dalam surat Ad-Dukhaan ayat 1-3:

حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Haa Miim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.

Dalam perspektif yang lebih spesifik, surat Al-Qadr ayat 1 menegaskan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan.

Diskusi di kalangan ulama mengenai ayat-ayat ini melahirkan dua arus pemahaman besar. Mayoritas mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud adalah turunnya Al-Quran secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh menuju langit dunia atau Baitul Izzah pada Lailatul Qadar. Dari titik itulah, wahyu kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam selama 23 tahun. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa malam tersebut menandai titik awal atau permulaan turunnya wahyu kepada sang Nabi. Terlepas dari perbedaan teknis tersebut, intisarinya tetap sama: Lailatul Qadar adalah malam kelahiran hidayah bagi umat manusia.

Namun, densitas keberkahan malam ini tidak hanya terletak pada teks wahyu, melainkan juga pada peristiwa fisik-metafisis berupa turunnya para malaikat. Dalam surat Al-Qadr ayat 4 disebutkan:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberikan catatan menarik mengenai fenomena ini. Banyaknya malaikat yang turun merupakan cerminan dari melimpahnya barakah pada Lailatul Qadar. Kehadiran mereka membawa rahmat, sama halnya ketika mereka mengelilingi majelis dzikir atau menghormati penuntut ilmu dengan membentangkan sayap. Penyebutan Ar-Ruuh yang merujuk pada Malaikat Jibril secara khusus adalah bentuk penghormatan tertinggi (takrim) atas kedudukan sang pembawa wahyu di antara jutaan malaikat lainnya.

Interpretasi mengenai suasana malam ini ditutup dengan statemen kedamaian total dalam ayat terakhir surat Al-Qadr:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Kata salaamun dalam ayat ini memicu spektrum makna yang luas bagi para ulama. Ada yang memahami bahwa di malam itu tidak ada ruang bagi penyakit atau gangguan setan. Namun, pendapat yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan menyebutkan bahwa malam tersebut adalah fase di mana para malaikat mendoakan keselamatan bagi setiap individu yang menghidupkan masjid-masjid dan rumah-rumah mereka dengan ketaatan. Ia adalah zona bebas keburukan, sebuah waktu yang sepenuhnya berisi kebaikan hingga ufuk timur memerah.

Memahami Lailatul Qadar melalui kacamata Dr. Nashir al-Judai mengajak kita untuk menyadari bahwa keberkahan bukan sekadar urusan pahala matematis, melainkan tentang koneksi antara langit dan bumi yang terbuka lebar. Malam ini adalah janji kesejahteraan bagi siapa saja yang mau membuka hatinya pada petunjuk Al-Quran dan bersujud di bawah naungan rahmat para malaikat. Inilah fenomena tahunan yang menjaga denyut spiritualitas umat agar tetap terhubung dengan sumber cahaya yang abadi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 05 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)