Langit7, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang memukul keras berbagai sektor usaha, berdampak pada meningkatnya angka pengangguran.
Begitu juga yang dialami warga Kelurahan Bakalanrajan, Sukun, Kota Malang yang hampir satu kampung terimbas pandemi hingga kesulitan dalam urusan ekonomi mereka.
Namun, mereka tidak berdiam diri, melainkan bangkit mencari solusi untuk mencari peluang di tengah pandemi. Hingga tercetus lah sebuah ide untuk membudi dayakan ikan nila yang mereka lakukan dalam kelompok budi daya.
Baca juga: Asosiasi Gabungan Perusahaan Haji Umrah Resmikan Koperasi GaphuraSalah satu warga, Agung Sugiantoro mengatakan, budi daya ikan nila dipilih karena menjadi ketahanan pangan yang tidak berpengaruh di saat pandemi. Dari situ, ia bersama warga lainnya mulai membudi dayakan ikan nila, dan membentuk Kampung Nila Slilir.
"Saya mantan fotografer bersama teman-teman lain, ada yang kerja bangunan, konveksi, dan lainnya yang terimbas pandemi mulai mencoba menciptakan sesuatu yang masih bisa berprogres, yaitu sektor pangan," kata dia dikanal Youtube PecahTelur.
Walaupun tidak memiliki lahan, tapi kelompok budi daya Kampung Nila Slilir ini tidak kehabisan akal. Mereka memanfaatkan halaman rumah, lorong gang, dan lahan terbatas lainnya.
Selain itu, mereka juga menerapkan sistem bioflok dalam budi dayanya. Dengan begitu, dapat membudi dayakan ikan nila dengan cara tebar padat ikan, sehingga mendapatkan keuntungan lebih banyak.
"Tujuan kita dari awal memang untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Jadi bukan sekadar jual konsumsi selesai, tapi banyak sektor bisnis yang ada di sini, mulai dari penjualan bibit, pakan olahan, pembuatan kolam dan aksesorisnya," jelasnya.
Baca juga: Pebisnis Muslim Harus Tahu, Ini Cara Dapat Berkah dalam BisnisSatu tahun berjalan sejak pandemi, kini kelompok budi daya ikan nila yang dilakukan para pemuda itu juga mengajak warga sekitarnya untuk mulai melakukan budi daya. Hingga saat ini mampu berkembang dan memiliki 58 kolam dengan 37 pebudi daya.
Sementara untuk pemasaran, Kampung Nila Slilir menawarkan hasil panen mereka secara mandiri. Artinya, dengan tanpa tengkulak, mereka mempromosikan sendiri berbagai produk yang ada dengan menggunakan media sosial.
(zul)