Membaca Tafsir al-Azhar Buya Hamka, Anwar Ibrahim: Mengesankan
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 29 Agustus 2022 - 17:19 WIB
Mantan Wakil PM Malaysia, Dato Seri Anwar Ibrahim saat memberi pemaparan di launching buku
Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Anwar Ibrahimmengulas tafsir al-Azhar yang ditulis Buya Hamka saat dalam penahanan rezim Soekarno.
Menurut dia, kitab tafsir tersebut merumuskan pengenalan dan pengajaran Al-Qur'an, kaedah dan haluan tafsir.
Baca juga: Buku Membaca Hamka Merawat Bangsa, Ulas Pemikiran dan Tindakan Buya Hamka
"Dalam bab-bab pengantar, seperti mendengar pengisian beberapa kuliah pengantar Al-Qur'an yang menarik," ujar Anwar Ibrahim dalam acara lauching buku bertajuk "Membaca Hamka Merawat Bangsa," di ruang Pameran Lantai 4 Perpusnas, Jakarta, Senin (29/8/2022).
Dalam bab Hikmat Ilahi, Hamka juga menyinggung pengalaman difitnah dalam konspirasi membunuh pemimpin Indonesia. Disebutkan, Hamka menerima empat juta dolar Amerika dari Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman dan menghasut untuk meneruskan pemberontakan Kartosuwiryo, Daud Beureuch, Mohammad Natur dan Syafruddin Prawiranegara.
Ini menjadi awal mula pemenjaraan tanpa bicara, pada 12 Ramadhan 1383 tepatnya tanggal 27 Januari 1964.
"Membaca karya Hamka khususnya tafsir al-Azhar ketika mendekam dipenjara lebih mengesankan. Karena di saat semua jalan untuk berhubungan dengan orang ditutup, hubungan kita di langit terbuka lebar," katanya.
Menurut dia, kitab tafsir tersebut merumuskan pengenalan dan pengajaran Al-Qur'an, kaedah dan haluan tafsir.
Baca juga: Buku Membaca Hamka Merawat Bangsa, Ulas Pemikiran dan Tindakan Buya Hamka
"Dalam bab-bab pengantar, seperti mendengar pengisian beberapa kuliah pengantar Al-Qur'an yang menarik," ujar Anwar Ibrahim dalam acara lauching buku bertajuk "Membaca Hamka Merawat Bangsa," di ruang Pameran Lantai 4 Perpusnas, Jakarta, Senin (29/8/2022).
Dalam bab Hikmat Ilahi, Hamka juga menyinggung pengalaman difitnah dalam konspirasi membunuh pemimpin Indonesia. Disebutkan, Hamka menerima empat juta dolar Amerika dari Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman dan menghasut untuk meneruskan pemberontakan Kartosuwiryo, Daud Beureuch, Mohammad Natur dan Syafruddin Prawiranegara.
Ini menjadi awal mula pemenjaraan tanpa bicara, pada 12 Ramadhan 1383 tepatnya tanggal 27 Januari 1964.
"Membaca karya Hamka khususnya tafsir al-Azhar ketika mendekam dipenjara lebih mengesankan. Karena di saat semua jalan untuk berhubungan dengan orang ditutup, hubungan kita di langit terbuka lebar," katanya.