Menjernihkan Makna dan Posisi Politik Identitas
Fajar adhitya
Sabtu, 24 September 2022 - 23:05 WIB
diskusi buku Politik Identitas: Dalam Perspektif Al-Quran dan Teori Modern di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Selatan, Sabtu (24/9/2022). (Foto: Langit7.id/Suandri)
Penerbit buku Islam, Pustaka Al-Kautsar menggelar diskusi buku "Politik Identitas: Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Teori Modern", Ahad (24/9/2022). Selain penulis, Eman Sulaeman, diskusi menghadirkan pengamat politik Rocky Gerung dan Ray Rangkuti dengan moderator wartawan senior Hersubeno Arief.
Penulis buku tersebut di atas, Eman Sulaeman, mengatakan politik identitas selalu menjadi isu yang ramai diperbincangkan menjelang hajat politik. Banyak kalangan seperti masyarakat awam, pengamat, akademisi, politisi khawatir politik identitas akan memicu perpecahan bangsa.
Baca Juga:Bias Politik Identitas di Indonesia, Selalu Dikaitkan pada Agama
"Politik identitas diangap sebagai biang pemecah belah bangsa, bibit pergesekan. Sehingga mereka yang menolak mengampanyekan jangan menggunakan politik identitas di hampir semua tempat digaungkan itu," kata Eman di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Selatan.
Lewat bukunya, Eman mencoba menjernihkan dan mendudukkan kembali posisi politik identitas sebagai sebuah diskursus. Apakah yang dimaksud politik identitas itu, apakah penggunaan politik identitas terlarang, sesuatu yang tabu, atau boleh-boleh saja, serta bagaimana politik identitas dalam pandangan Islam. "Ini kita harus bukukan dulu, makna dan posisinya," ucap Eman.
Menurut Eman, pada awalnya politik identitas berada dalam posisi netral. Sebab, identitas sejatinya melekat dalam setiap pribadi manusia, entah itu identitas warna kulit, latar belakang suku, bangsa, bahasa, dan agama sekalipun. "Artinya buat saya ini harus kita dudukkan supaya kemudian kita bisa tempatkan politik identitas secara benar," lanjutnya.
Baca Juga:Aksi Demonstrasi Kian Meningkat, Negara Diminta Lindungi Ruang Berpendapat
Penulis buku tersebut di atas, Eman Sulaeman, mengatakan politik identitas selalu menjadi isu yang ramai diperbincangkan menjelang hajat politik. Banyak kalangan seperti masyarakat awam, pengamat, akademisi, politisi khawatir politik identitas akan memicu perpecahan bangsa.
Baca Juga:Bias Politik Identitas di Indonesia, Selalu Dikaitkan pada Agama
"Politik identitas diangap sebagai biang pemecah belah bangsa, bibit pergesekan. Sehingga mereka yang menolak mengampanyekan jangan menggunakan politik identitas di hampir semua tempat digaungkan itu," kata Eman di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Selatan.
Lewat bukunya, Eman mencoba menjernihkan dan mendudukkan kembali posisi politik identitas sebagai sebuah diskursus. Apakah yang dimaksud politik identitas itu, apakah penggunaan politik identitas terlarang, sesuatu yang tabu, atau boleh-boleh saja, serta bagaimana politik identitas dalam pandangan Islam. "Ini kita harus bukukan dulu, makna dan posisinya," ucap Eman.
Menurut Eman, pada awalnya politik identitas berada dalam posisi netral. Sebab, identitas sejatinya melekat dalam setiap pribadi manusia, entah itu identitas warna kulit, latar belakang suku, bangsa, bahasa, dan agama sekalipun. "Artinya buat saya ini harus kita dudukkan supaya kemudian kita bisa tempatkan politik identitas secara benar," lanjutnya.
Baca Juga:Aksi Demonstrasi Kian Meningkat, Negara Diminta Lindungi Ruang Berpendapat