Sejarah Pesantren Langitan, Didirikan Murid Pangeran Diponegoro
Muhajirin
Kamis, 27 Oktober 2022 - 16:25 WIB
Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur (foto: menaralangitan.com)
Pondok Pesantren Langitan adalah salah satu pesantren tertua di Indonesia. Maka, tentu ia punya banyak nilai sejarah. Pesantren ini ternyata didirikan oleh salah satu murid Pangeran Diponegoro yaitu KH Muhammad Nur.
Pondok Pesantren Langitan terletak di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kec. Widang, Tuban, Jawa Timur. Berada di sebuah dusun kecil nan asri di bantaran kali bengawan Solo, berdiri gagah Pesantren Langitan persis di depan jalur Pantura Surabaya-Semarang.
“Setelah selesai peperangan Diponegoro sekira 1825-1830, seseorang yang bernama KH Muhammad Nur yang berasal dari Tuyuhan, keturunan dari Sayyid Muhammad Abdurrahman Sambu, datang dengan anak-anaknya berjumlah sembilan dan istrinya hijrah ke daerah Plang Wetan, Langitan,” kata Masyaikh Pesantren Langitan, KH Abdullah Habib Faqih, di kanal Ponpes Langitan.
Baca Juga: Ponpes Langitan, Tempat KH Hasyim Asy’ari dan Syaikhona Kholil Nyantri
Awalnya, Kiai Nur hanya mengajari putra-putri beserta istri tentang ajaran agama. Namun, sekitar tahun 1852 datang 25 santri yang ikut belajar kepada Kiai Nur. Itu membuat Kiai Nur membuat sebuah surau atau langgar sebagai tempat belajar dan istirahat para santri.
Pondok Pesantren Langitan terletak di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kec. Widang, Tuban, Jawa Timur. Berada di sebuah dusun kecil nan asri di bantaran kali bengawan Solo, berdiri gagah Pesantren Langitan persis di depan jalur Pantura Surabaya-Semarang.
“Setelah selesai peperangan Diponegoro sekira 1825-1830, seseorang yang bernama KH Muhammad Nur yang berasal dari Tuyuhan, keturunan dari Sayyid Muhammad Abdurrahman Sambu, datang dengan anak-anaknya berjumlah sembilan dan istrinya hijrah ke daerah Plang Wetan, Langitan,” kata Masyaikh Pesantren Langitan, KH Abdullah Habib Faqih, di kanal Ponpes Langitan.
Baca Juga: Ponpes Langitan, Tempat KH Hasyim Asy’ari dan Syaikhona Kholil Nyantri
Awalnya, Kiai Nur hanya mengajari putra-putri beserta istri tentang ajaran agama. Namun, sekitar tahun 1852 datang 25 santri yang ikut belajar kepada Kiai Nur. Itu membuat Kiai Nur membuat sebuah surau atau langgar sebagai tempat belajar dan istirahat para santri.