Tafsir: Keadaan Manusia Saat Malaikat Israfil Tiup Sangkakala
Hasanah syakim
Selasa, 29 November 2022 - 06:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Allah subhanahu wa ta'ala (SWT) memberitahukan bahwa apabila sangkakala ditiupkan oleh Malaikat Israfil, maka itu sebagai tanda pembangkitan makhluk. Kemudian manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Hal ini sebagaimana Allah jelaskan dalam Surat Al Mu'minuun Ayat 101-104:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ . فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَٰلِحُونَ
Artinya: "Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka, pada hari itu (hari Kiamat) dan tidak (pula) mereka saling bertanya. Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar apu neraka dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat".
Berdasarkan kajian tafsir Ibnu Katsir pada beberapa ayat ini, Sekretaris Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), KH Zae Nandang menjelaskan Allah Ta'ala mengabarkan berita yang pasti kebenarannya.
Baca Juga:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir: Asal-Usul Penamaan Surat Saba
"Mustahil bohong, karena itu secara syar'i wajib iman kepada kabar Allah Ta'ala. Kalau menurut akal harus percaya kepada kabar dari Allah," kata Kiai Zae Nandang dikutip Langit7 dalam kanal YouTube Persis TV Channel, Selasa (29/11/2022).
Lebih lanjut, Kiai Zae Nandang juga menjelaskan bahwa kabar terbagi menjadi tiga macam. Pertama, kabar yang pasti benarnya, yaitu kabar dari Allah Ta'ala dan RasulNya. Kedua, kabar yang pasti bohongnya yaitu dari iblis.
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ . فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَٰلِحُونَ
Artinya: "Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka, pada hari itu (hari Kiamat) dan tidak (pula) mereka saling bertanya. Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar apu neraka dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat".
Berdasarkan kajian tafsir Ibnu Katsir pada beberapa ayat ini, Sekretaris Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), KH Zae Nandang menjelaskan Allah Ta'ala mengabarkan berita yang pasti kebenarannya.
Baca Juga:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir: Asal-Usul Penamaan Surat Saba
"Mustahil bohong, karena itu secara syar'i wajib iman kepada kabar Allah Ta'ala. Kalau menurut akal harus percaya kepada kabar dari Allah," kata Kiai Zae Nandang dikutip Langit7 dalam kanal YouTube Persis TV Channel, Selasa (29/11/2022).
Lebih lanjut, Kiai Zae Nandang juga menjelaskan bahwa kabar terbagi menjadi tiga macam. Pertama, kabar yang pasti benarnya, yaitu kabar dari Allah Ta'ala dan RasulNya. Kedua, kabar yang pasti bohongnya yaitu dari iblis.