PPKM Terus Berlanjut, Masyarakat Pesimis Ekonomi Bisa Pulih dalam Waktu Singkat
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 10 September 2021 - 16:26 WIB
Ilustrasi pemulihan ekonomi. Foto: Langit7/Istock
Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat pemerintah masih terus memberlakukan kebijakan PPKM Darurat di berbagai wilayah di tanah air. Walaupun saat ini sebagian wilayah sudah level PPKM sudah diturunkan, tapi tetap berimbas kepada tingkat kepercayaan masyarakat yang ada.
Hal itu menyebabkan banyaknya sentimen negatif dari masyarakat terhadap pemulihan ekonomi nasional. Bahkan, beberapa di antaranya mengaku pesimis akan mendapatkan pekerjaan beberapa waktu ke depan.
Baca juga:Dari Coba-coba, Guru Ini Sekarang Serius Garap Usaha Telur Asin
Data Analyst Continuum Data Indonesia, Muhammad Azzam mengatakan, dari hasil riset yang dilakukannya, kebanyakan masyarakat kontra dengan pemberlakuan PPKM Darurat yang masih berjalan hingga kini. Setidaknya dari 4 juta lebih pembicaraan masyarakat yang dilakukan di media sosial terkait PPKM, 80 persen di antaranya merespon negatif kebijakan tersebut.
“Sebenarnya masyarakat bukan menolak, tapi lebih kepada keadaan kaget karena segala kebiasaan dan aktivitas mereka harus berubah. Apalagi perubahan ini turut berdampak pada kegiatan ekonomi mereka,” ujarnya secara daring dalam diskusi INDEF, Analisi Big Data: Apa Kabar Konsumen Indonesia Selama PPKM? Jumat (10/9).
Azzam menyebutkan, paling banyak disebut oleh masyarakat terkait PPKM adalah soal dampak yang dirasakan pada sektor transportasi umum, larangan makan di tempat, dan penutupan pusat perbelanjaan. Dengan kebijakan tersebut, menyebabkan pelaku usaha yang biasa melapak di pusat perbelanjaan harus berdagang di pinggir jalan.
Terlebih, lanjut dia, penutupan mall juga berdampak pada mereka yang mendapatkan penghasilan secara harian. Di mana, di antaranya juga menyebtukan bahwa kebijakan work from home (WFH) lebih cocok bagi mereka yang berpenghasilan bulanan.
Hal itu menyebabkan banyaknya sentimen negatif dari masyarakat terhadap pemulihan ekonomi nasional. Bahkan, beberapa di antaranya mengaku pesimis akan mendapatkan pekerjaan beberapa waktu ke depan.
Baca juga:Dari Coba-coba, Guru Ini Sekarang Serius Garap Usaha Telur Asin
Data Analyst Continuum Data Indonesia, Muhammad Azzam mengatakan, dari hasil riset yang dilakukannya, kebanyakan masyarakat kontra dengan pemberlakuan PPKM Darurat yang masih berjalan hingga kini. Setidaknya dari 4 juta lebih pembicaraan masyarakat yang dilakukan di media sosial terkait PPKM, 80 persen di antaranya merespon negatif kebijakan tersebut.
“Sebenarnya masyarakat bukan menolak, tapi lebih kepada keadaan kaget karena segala kebiasaan dan aktivitas mereka harus berubah. Apalagi perubahan ini turut berdampak pada kegiatan ekonomi mereka,” ujarnya secara daring dalam diskusi INDEF, Analisi Big Data: Apa Kabar Konsumen Indonesia Selama PPKM? Jumat (10/9).
Azzam menyebutkan, paling banyak disebut oleh masyarakat terkait PPKM adalah soal dampak yang dirasakan pada sektor transportasi umum, larangan makan di tempat, dan penutupan pusat perbelanjaan. Dengan kebijakan tersebut, menyebabkan pelaku usaha yang biasa melapak di pusat perbelanjaan harus berdagang di pinggir jalan.
Terlebih, lanjut dia, penutupan mall juga berdampak pada mereka yang mendapatkan penghasilan secara harian. Di mana, di antaranya juga menyebtukan bahwa kebijakan work from home (WFH) lebih cocok bagi mereka yang berpenghasilan bulanan.