home edukasi & pesantren

Strategi Dakwah Salafi: Bandingkan dengan NU dan Muhammadiyah

Jum'at, 07 Februari 2025 - 17:02 WIB
Benih-benih perkembangan dakwah Salafi sejak berdirinya DDII. Ilustrasi: Ist/mhy
LANGIT7.ID--Dakwah Salafi maju pesat di Indonesia pada saat ini. Mereka mendirikan yayasan-yayasan, mengorganisir kelompok-kelompok kajian Islam, dan yang paling fenomenal adalah mendirikan gerakan para-militer. Hal yang menarik, mereka tidak mendirikan partai politik.

Muhammad Ali Chozin dari Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dalam karya tulisnya berjudul "Strategi Dakwan Salafi di Indonesia" menyebut benih-benih perkembangan dakwah Salafi sudah ada sebelum lengsernya presiden Soeharto tahun 1998, yaitu sejak berdirinya Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) tahun 1967 oleh Muhammad Natsir (1908-1993).

Organisasi ini merupakan agen kampanye anti-Syiah di Indonesia yang didanai oleh Hai’at al-Ighatsah al-Islamiyyah al-Alamiyyah (IIRO, International Islamic Relief Organization/Organisasi Bantuan Islam Internasional), al-Majlis al-‘Alami li al-Masajid (WCM, World Council of Mousques/Dewan Masjid Dunia), al-Nadwat al-‘Alamiyyah li al-Shahab al-Islami (WAMY, World Assembly of Muslim Youth/Organisasi Pemuda Muslim se-Dunia), dan Lajnat Birr al-Islami (CIC, Committee of Islamic Charity/Panitia Derma Islam).

Bantuan ini secara signifikan memperkuat aktivitas-aktivitas DDII dalam dakwah dan pendidikan dengan membiayai pembangunan masjid, panti yatim piatu, rumah sakit, sekolah Islam, pembagian al-Qur’an gratis dan buku-buku, dan pelatihan da’i.

Bekerja sama dengan MUI, DDII menyelenggarakan program ‘da’i transmigrasi’, sebuah program yang memfasilitasi dan menyalurkan para da’i ke berbagai tempat terpencil. DDII menerbitkan majalah bulanan "Media Dakwah".

Baca juga: Hukum Mengenakan Cadar bagi Muslimah Menurut NU, Muhammadiyah dan Salafi

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya