LANGIT7.ID--
Dakwah Salafi maju pesat di Indonesia pada saat ini. Mereka mendirikan yayasan-yayasan, mengorganisir kelompok-kelompok kajian Islam, dan yang paling fenomenal adalah mendirikan gerakan para-militer. Hal yang menarik, mereka tidak mendirikan
partai politik.
Muhammad Ali Chozin dari Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dalam karya tulisnya berjudul "
Strategi Dakwan Salafi di Indonesia" menyebut benih-benih perkembangan dakwah Salafi sudah ada sebelum lengsernya presiden Soeharto tahun 1998, yaitu sejak berdirinya
Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) tahun 1967 oleh Muhammad Natsir (1908-1993).
Organisasi ini merupakan agen kampanye anti-Syiah di Indonesia yang didanai oleh Hai’at al-Ighatsah al-Islamiyyah al-Alamiyyah (IIRO, International Islamic Relief Organization/Organisasi Bantuan Islam Internasional), al-Majlis al-‘Alami li al-Masajid (WCM, World Council of Mousques/Dewan Masjid Dunia), al-Nadwat al-‘Alamiyyah li al-Shahab al-Islami (WAMY, World Assembly of Muslim Youth/Organisasi Pemuda Muslim se-Dunia), dan Lajnat Birr al-Islami (CIC, Committee of Islamic Charity/Panitia Derma Islam).
Bantuan ini secara signifikan memperkuat aktivitas-aktivitas DDII dalam dakwah dan pendidikan dengan membiayai pembangunan masjid, panti yatim piatu, rumah sakit, sekolah Islam, pembagian al-Qur’an gratis dan buku-buku, dan pelatihan da’i.
Bekerja sama dengan MUI, DDII menyelenggarakan program ‘da’i transmigrasi’, sebuah program yang memfasilitasi dan menyalurkan para da’i ke berbagai tempat terpencil. DDII menerbitkan majalah bulanan "Media Dakwah".
Baca juga: Hukum Mengenakan Cadar bagi Muslimah Menurut NU, Muhammadiyah dan Salafi Noorhaidi Hasan dalam "
Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca-Orde Baru", (Jakarta: LP3ES & KITLV-Jakarta, 2008) menyebut setiap tahun sejak 1975, DDII memberikan beasiswa kepada para pelajar Muslim untuk disekolahkan ke universitas-universitas di Timur Tengah, tak terkecuali Arab Saudi dan Yaman.
Di samping itu, yang paling menentukan perkembangan Salafi di Indonesia belakang ini adalah berdirinya Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA).
Lembaga ini sengaja didirikan untuk membendung pengaruh Syiah pasca revolusi Iran 1979 masuk ke Indonesia. Awalnya berdiri sebagai Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) berdasarkan Keputusan Pemerintah Saudi No. 5/N/26710.
Berkat dukungan penuh dari Arab Saudi, LIPIA berhasil mengembangkan pemikiran Salafinya di Indonesia. Dari alumni LIPIA tahun 1980- an, seperti: Yazid Abdul Qadir Jawas, Farid Okbah, Ainul Harits, Abu Bakar M. Altway, Ja’far Umar Thalib, Yusuf Usman, Abu Nida Chamsaha Shafwan, Ahmad Faiz Asifuddin, dan Ainurrafiq Ghufran banyak mencetak kader-kader Salafi yang tersebar ke berbagai daerah.
Mereka kemudian melanjutkan studinya ke Arab Saudi dan negara-negara lain di Timur Tengah, dan setelah kembali mendirikan yayasan, dan lembaga pendidikan dan sosial.46
Noorhaidi Hasan mengatakan dakwah Salafi dibangun berlandaskan prinsip-prinsip: (a) menegakkan keutamaan Sunnah Nabi; (b) memberi contoh langsung kepada masyarakat; (c) mendorong pemurnian tauhid.
Ja’far Umar Thalib menyebut empat tujuan dakwah Salafi: pertama, mengajarkan pemahaman agama yang benar kepada kaum Muslim dengan menunjukkan pemahaman yang lengkap untuk menjawab permasalahan kehidupan.
Kedua, meluruskan penyimpangan-penyimpangan pemahaman di kalangan kaum Muslim dari bid’ah dan kufur.
Ketiga, menghidupkan, memasyarakatkan, dan mengokohkan amalan-amalan yang pernah diajarakan dan dilakukan Rasulullah.
Keempat, menumbuhkan persaudaraan dan kesatuan umat Islam atas dasar loyalitas dan kecintaan kepada Sunnah Rasulullah (alwala’) dan kebencian kepada bid’ah dan kufur (al-bara’).
Baca juga: Poligami Menurut Ulama NU, Muhammadiyah, dan Salafi Adapun proses yang yang dilakukan kalangan Salafi dalam menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan manhaj salaf al-shalih yaitu dengan pendidikan (tarbiyah) dan pemurnian (tasfiyah).
1. Halaqah dan Daurah Di kalangan Salafi tidak mengenal bahkan tidak diperbolehkan mendirikan sebuah organisasi, apalagi partai politik. Dalam menyebarkan ajaran-ajarannya, mereka menggunakan sebuah metode dakwah yang dikenal dengan daurah dan halaqah.
Daurah secara bahasa berarti “giliran”. Sedangkan menurut istilah yaitu suatu pelatihan atau pengajian yang diadakan dalam waktu dan tempat tertentu yang telah disepakati, di saat itu peserta berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang telah direncanakan.
Halaqah menurut bahasa bermakna “lingkaran”. Sedangkan menurut istilah yaitu forum untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman, di mana seorang ustaz atau pengajar memberikan pelajaran-pelajaran berdasarkan buku-buku tertentu dan para peserta atau murid-muridnya duduk melingkar untuk mendengarkan dan menyimak materinya.
Tempat yang biasa dipakai untuk kegiatan daurah dan halaqah biasanya masjid, ruang pertemuan, dan rumah sang ustaz. Tidak sedikit dari kegiatan ini melahirkan sebuah lembaga pendidikan, pondok pesantren dan kursus bahasa Arab.
2. Mendirikan Yayasan Meningkatnya generasi muda yang mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanhaj Salafi hasil dari daurah dan halaqah membuktikan bahwa dakwah model tersebut berhasil.
Para tokoh Salafi kemudian berpikir agar mereka tidak lagi mengikuti ajaran dan pemahaman yang keluar dari koridor salaf al-shalih. Menyikapi hal tersebut, para tokoh Salafi mendirikan yayasan yang kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan seperti pondok pesantren dan lembaga kursus bahasa Arab.
Hal ini dimaksudkan agar kegiatan halaqah dan daurah bisa diselenggarakan lebih efektif dan efesien. Setidaknya ada tiga lembaga yang membiayai keberlangsungan yayasan-yayasan tersebut, yaitu:
(a) Jam’iyyat Ihya al-Turats al-Islami atau dikenal Ihya Turats berpusat di Kuwait. Lembaga ini diawasi oleh pemerintah Kuwait dan otoritas keagamaan Arab Saudi.
(b) Mu’assasat al-Haramain adalah lembaga yang bekerja sama dengan Kementerian Masalah-masalah Islam, Sumbangan, Dakwah, dan Bimbingan. Berdiri tahun 1980 yang bertujuan menerapkan ajaran Islam yang benar dan mendidik para generasi. Lembaga ini juga memberikan bantuan dana untuk pendirian masjid dan kegiatan dakwah lainnya.
(c) Organisasi Amal Islam Internasional yang berkedudukan di Dammam, Arab Saudi. Lembaga ini fokus dalam memberikan dana sosial dan keagamaan.
Metode Dakwah Muhammadiyah
Metode dakwah yang digunakan Muhammadiyah sejak awal berdiri sampai saat ini dalam rangka mendidik dan mencerahkan kehidupan. Setidaknya ada empat metode yang dipakai
Muhammadiyah.
Baca juga: Kisah dalam Hadis: Dakwah Pemuda Beriman Melawan Raja dengan Tukang Sihirnya Pertama dakwah bil lisan (melalui perkataan) dilakukan Muhammadiyah antara lain melalui ceramah-ceramah, khutbah, diskusi, seminar dan nasihat-nasihat. Kedua dakwah bil-hal, yaitu metode dakwah melalui perbuatan langsung.
Sehingga sejak dulu Muhammadiyah sebagaimana dicontohkan Kiai Dahlan ketika berdakwah selalu memberi teladan seperti mendirikan penolong kesengsaraan oemom atau PKO (kini, rumah sakit), pembagian zakat sedekah dan kurban melalui panitia.
Dalam dakwah bil-hal, Muhammadiyah mempelopori adanya kepanitiaan pengelolaan zakat, infaq, shodaqah termasuk qurban untuk diperuntukan kepada para anak yatim, fakir miskin di Yogyakarta diawal berdirinya Muhammadiyah. Metode ini sekaigus implementasi dakwah Muhammadiyah dalam menjalankan perintah al-qur’an dalam surat al-ma’un.
Melalui surat al-maun, Muhammadiyah tidak hanya memaknainya tetapi mempraktikkan menjadi dakwah bil-hal yaitu menyantuni anak yatim, fakir miskin higga berdirinya penolong kesengsaraan oemoem (sekarang, PKU) dan pelayanan sosial berupa panti asuhan.
Praktik dakwah ini begitu kuat dan mengakar karena dicontohkan langsung oleh Kiai Dahlan bersama muridnya di awal dakwah Muhammadiyah hadir menyantuni dan memberi makan fakir miskin dan gelandangan serta mendidik anak yatim di sekitaran Kauman, Yogyakarta.
Ketiga dakwah bi-tadwin adalah metode dakwah yang dilakukan melalui tulisan. Para tokoh awal Muhammadiyah hingga ini menggunakan metode tulisan untuk menyampaikan penjelasan mengenai seruan yang hendak disampaikan seluas-luasnya kepada warga, anggota, pimpinan Muhammadiyah dan masyarakat.
Keberadaan tradisi tulisan atau dokumentasi sampai saat ini masih bermanfaat, misalnya hadirnya Majalah Suara Muhammadiyah mensyiarkan mengenai puasa ada dokumentasinya di Perpustaan Leiden, Belanda dan buku-buku Kepanduan yang menjadi cikal bakal dokumentasi latihan Hizbul Wathan pada tahun 1914.
Keempat adalah dakwah bil-hikmah yaitu menyampaikan seruan secara arif dan bijaksana. Jadi kalau ingin mengingatkan Muhammadiyah cenderung menyampaikan dengan arif dan bijaksana. Bahkan, mengingatkan dengan cara ini telah menjadi tradisi di Muhammadiyah bagaimana menggunakan surat keroganisasiannya sebagai sebuah saran, kritik dan mengingatkan.
Metode Dakwah NU
Dakwah
Nahdlatul Ulama atau NU tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan semata, tetapi juga membawa pesan perdamaian, kebijaksanaan, serta semangat toleransi yang kuat.
Baca juga: Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran Sejalan dengan Pertimbangan Dakwah Dengan pendekatan yang inklusif, NU mampu menjaga harmoni sosial, memperkuat pendidikan, dan berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Metode dakwah yang diusung oleh NU mencerminkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, menghadirkan Islam yang ramah, bukan marah.
Berikut ini adalah beberapa metode utama yang digunakan NU dalam menyebarkan ajaran Aswaja menurut Dr. Abdul Wadud Nafis, LC., MEI, Pengasuh Pon Pes Manarul Qur’an Sukodono Lumajang sebagaimana dilansir laman NU Lumajang:
1. Pendekatan Kultural (Kearifan Lokal)
NU mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal tanpa melanggar syariat Islam. Contohnya, tradisi seperti tahlilan, selamatan, dan perayaan Maulid Nabi tetap dipertahankan sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Islam di masyarakat. Dengan cara ini, dakwah NU terasa lebih mudah diterima dan tidak dianggap asing.
2. Pendidikan Formal dan Nonformal
NU sangat aktif dalam mengelola lembaga pendidikan seperti pesantren, madrasah, dan universitas. Pesantren menjadi pusat pengajaran ajaran Aswaja dengan fokus pada pendidikan agama yang komprehensif, seperti ilmu fikih, tafsir, dan akhlak. Selain itu, NU juga memanfaatkan forum pengajian dan majelis taklim untuk memperkuat pemahaman masyarakat umum tentang ajaran Aswaja.
3. Dakwah Bil Hikmah
Pendekatan dakwah NU sangat menekankan metode bil hikmah atau dengan kebijaksanaan, yaitu menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang penuh kasih, lemah lembut, dan bijaksana. Ini mencerminkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam.
4. Pendekatan Dialog dan Toleransi
NU menekankan pentingnya dialog antarumat beragama dan hidup berdampingan dengan harmonis di tengah masyarakat plural. Toleransi antaragama menjadi salah satu prinsip penting dalam dakwah NU, sejalan dengan ajaran Aswaja yang menolak ekstremisme dan radikalisme.
5. Penggunaan Teknologi dan Media
Dalam era modern, NU juga memanfaatkan media massa, televisi, dan platform digital untuk menyebarkan ajaran Aswaja. Dengan adanya platform seperti NU Online, NU dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda.
6. Gerakan Sosial dan Kemanusiaan
NU tidak hanya fokus pada dakwah keagamaan, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti bantuan kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan aksi solidaritas. Melalui kegiatan sosial, NU menunjukkan ajaran Islam yang peduli pada kesejahteraan umat dan masyarakat.
7. Organisasi dan Jaringan Keumatan
NU sebagai organisasi massa memiliki struktur yang kuat dari tingkat pusat hingga desa. Jaringan ini memudahkan penyebaran ajaran Aswaja melalui kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial yang terorganisir.
Melalui metode-metode tersebut, NU mampu menjaga keberlangsungan ajaran Aswaja di Indonesia secara damai, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
(mif)