Mendikdasmen: Deep Learning Bukan Pengganti Kurikulum Merdeka
Lusi mahgriefie
Senin, 17 Februari 2025 - 17:06 WIB
Mendikdasmen Prof Abdul Muti. Foto: tangkapan layar siaran YouTube tvMU Channel.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Abdul Mu'ti menegaskan bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam bukan pengganti Kurikulum Merdeka. Menurutnya, telah terjadi disinformasi terkait hal tersebut.
"Ada yang bilang deep learningitu kurikulum. Bahkan ada yang membandingkan antara deep learning dengan Merdeka Belajar. Sekali lagi saya katakan, ini bagian dari kebijakan yang akan kami terapkan dalam memperbaiki pembelajaran di Indonesia," kata Abdul Mu'ti dalam Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep Learning siaran YouTube tvMU Channel, Senin, 17 Februari 2025.
Baca juga: Kolom Pakar: Deep Learning, Konstruksi Metode dan Tujuan Pendidikan Islam
Ia menambahkan, deep learning bukan kurikulum tapi pendekatan pembelajaran. Deep learningmerupakan sebuah konsep yang menekankan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful. Mu'ti menegaskan, secara prinsip tak ada perubahan kurikulum.
Pertama kali menemukan istilah deep learning ini, Prof Mu'ti berujar yaitu ketika dirinya menempuh studi S2 di Australia, pada tahun 1995. Dari situ Ia mengetahui bahwa deep learning telah dikenalkan di beberapa negara sejak tahun 1976. Antara lain Norwegia, Swedia dan negara-negara Skandinavia.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kehadiran deep learning dalam proses pembelajaran di Indonesia sebagai upaya untuk menjawab kritik. "Ini sebagai jawaban kritik yang ada bahwa kalau kuliah, sekolah itu kan esensinya adalah learning bukan schooling, jadi esensinya belajar. Lalu kalau belajar apa yang kita pelajari?," ucapnya.
Jadi pada prinsipnya, sebagai Menteri, ia menginginkan adanya hal yang baru dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia.
"Ada yang bilang deep learningitu kurikulum. Bahkan ada yang membandingkan antara deep learning dengan Merdeka Belajar. Sekali lagi saya katakan, ini bagian dari kebijakan yang akan kami terapkan dalam memperbaiki pembelajaran di Indonesia," kata Abdul Mu'ti dalam Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep Learning siaran YouTube tvMU Channel, Senin, 17 Februari 2025.
Baca juga: Kolom Pakar: Deep Learning, Konstruksi Metode dan Tujuan Pendidikan Islam
Ia menambahkan, deep learning bukan kurikulum tapi pendekatan pembelajaran. Deep learningmerupakan sebuah konsep yang menekankan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful. Mu'ti menegaskan, secara prinsip tak ada perubahan kurikulum.
Pertama kali menemukan istilah deep learning ini, Prof Mu'ti berujar yaitu ketika dirinya menempuh studi S2 di Australia, pada tahun 1995. Dari situ Ia mengetahui bahwa deep learning telah dikenalkan di beberapa negara sejak tahun 1976. Antara lain Norwegia, Swedia dan negara-negara Skandinavia.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kehadiran deep learning dalam proses pembelajaran di Indonesia sebagai upaya untuk menjawab kritik. "Ini sebagai jawaban kritik yang ada bahwa kalau kuliah, sekolah itu kan esensinya adalah learning bukan schooling, jadi esensinya belajar. Lalu kalau belajar apa yang kita pelajari?," ucapnya.
Jadi pada prinsipnya, sebagai Menteri, ia menginginkan adanya hal yang baru dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia.